Selasa, 08 Juli 2014

Berbagi

Dalam cerita Mahabharata, dikenal sosok Karna yang senang berbagi. Dia akan rela memberikan apa pun yang diminta, kepada siapa pun yang meminta. Aku juga senang berbagi. Masalahnya adalah belum tentu orang lain mau kubagikan hal-hal yang kumiliki. Hahaha.

Aku senang berbagi kebahagiaan, tetapi aku tidak punya seseorang tempat aku membagi ini. Kalau berbagi kesedihan, sih, lebih mudah. Tapi aku tidak suka berbagi kesedihan sebagaimana aku malas mendengar cerita sedih orang lain. Aku lebih tertarik dengan cerita yang membangun optimisme.

Salah satu perilaku berbagi yang ada padaku adalah berbagi informasi. Aku senang berbagi informasi, di milis, di Facebook, di blog, dan di media sosial lainnya. Tingkah laku ini adalah kelebihan sekaligus kekuranganku. Beberapa kawan sudah meng-unfriend diriku karena habitus ini. Mereka tak sanggup menghadapi banjir di timeline Facebook mereka akibat hobiku yang senang berbagi ini. Aku juga menahan diri untuk tidak berbagi terlalu banyak di Timeline Facebook milikku karena aku menyayangi kawan-kawan Facebookku, yang berjumlah lebih dari 2000 (dan di atas 90% pernah kutemui langsung di dunia nyata).

Kawan-kawan Facebook yang kumiliki terdiri dari berbagai macam agama, aliran politik, hobi, kebiasaan, dll. Ada yang religius dan ada yang atheis. Ada yang berpolitik dengan aliran kiri dan kanan. Kadang aku membagi informasi secara provokatif tentang agama, yang bisa saja menyinggung kawan-kawan yang religius. Kadang aku membagi informasi secara provokatif tentang organisasi yang sering mengganggu kegiatan ibadah agama orang lain, yang tentu saja akan menyinggung kawan-kawan yang mendukung organisasi ini. Kadang aku membagi informasi tentang sains yang "mungkin" memiliki dampak terhadap interpretasi terhadap Kitab Suci agama, yang bisa saja menyinggung apa yang sudah dipercayai kawan-kawanku dalam hidup kesehariannya.

Aku bersyukur karena memiliki kawan-kawan Facebook yang belum meng-unfriend diriku yang kadang terlalu berlebihan dalam berbagi informasi. Aku menyadari bahwa berteman di dunia nyata lebih baik daripada di dunia maya. Mereka yang meng-unfriend diriku toh bisa kutemui dengan asyik-asyik aja di dunia nyata dan kami pun bisa bercerita banyak karena kami tidak tahu isi Facebook masing-masing. Ketidaktahuan bisa menjadi bahan obrolan. Kadang kurang asyik, kalau ketemu untuk membahas topik yang udah ada di Facebook. Tambahan lagi, aku bersyukur karena aku tidak di-unfriend, tetapi hanya di -"hide timeline" aja.

Kini di Indonesia, sedang ada pilpres. Karena calon Presiden cuma dua, maka konstelasinya kawan-kawan Facebook milikku kira-kira seperti ini:

  • Pendukung Prabowo, baik yang profesional maupun sekedar relawan/bobotoh
  • Pendukung Jokowi, baik yang profesional maupun sekedar relawan/bobotoh
  • Pembenci Prabowo
  • Pembenci Jokowi
  • Pembenci tokoh dan/atau organisasi pendukung Prabowo
  • Pembenci tokoh dan/atau organisasi pendukung Jokowi
  • Golput
  • Troll

Aku bersyukur punya kawan-kawan yang beragam. Tapi orang kadang memandang dengan cara dualisme: semua harus biner, ini lawan itu, baik lawan jahat, "are you with or against us?", dll. Jadinya mereka yang menyuarakan keberagaman, akhirnya jatuh juga kepada pandangan bahwa jagad maya hanya jadi dua ragam: "pilihan gue" atau "lawan gue".

Pada masa pilpres ini, aku memperoleh informasi dari segala penjuru. Ada informasi mutu berlian dan ada mutu sampah. Sebagian informasi perlu dianalisis secara kritis dan sebagian lagi sudah tersaji oleh media pers resmi yang tentu perlu saja tetap dibaca secara kritis. Ini karena wartawan masa kini lebih senang memberitakan dengan cepat tetapi suka lupa dengan keakuratan berita. Berdasarkan pekerjaanku sebagai peneliti, ketika berurusan dengan informasi dan entropi, selalu ada optimasi antara kecepatan dan akurasi,

Aku selalu memiliki keinginan untuk berbagi. Namun kali ini, aku menahan keinginan untuk berbagi sebagaimana seorang menahan diri dalam masa puasa. Walau ada beberapa informasi yang bisa kubagi, tetapi dalam masa pilpres ini, aku tidak membaginya. Alasannya bermacam-macam. Kasihan dengan kawan yang kena banjir informasi yang tak mereka butuhkan. Aku juga membatasi laju unfriend pada diriku. Masa sih, hanya demi keinginanku untuk berbagi informasi, aku kehilangan kawan?

Selain itu, aku juga harus menghormati kawan-kawan yang memiliki pandangan sosial politik yang berbeda denganku. Aku tidak mungkin menjelek-jelekkan tokoh panutan kawan-kawanku karena tokoh ini adalah harapan bagi kawan-kawanku, walau bukan harapanku. Aku memilih hal-hal yang lucu, kreatif atau membangkitkan optimisme saja yang kubagikan di Facebook Timeline. Memang kadang untuk hal yang kuperjuangkan, seperti penghormatan terhadap hak asasi manusia dan perlawanan terhadap fasisme, aku kadang menggunakan gambar dan cerita yang "keras" atau "tajam".

Ketika aku memandang foto-foto kawanku di Facebook, mereka adalah suami atau istri yang saling menyayangi atau orang tua yang menyayangi anak-anaknya. Hal ini yang membuatku menahan diri untuk tidak berbagi informasi secara berlebihan dan provokatif di Facebook. Aku tidak ingin mengotori timeline mereka dengan kacaunya duniaku, yang dekat dengan wacana etis dalam dunia sains, sosial, politik, lingkungan hidup, spiritualitas, dan keagamaan. Sometimes ignorance is bliss. Namun aku memilih tetap kritis. Dan kini aku menahan diri supaya kekritisanku tidak mengganggu hidup orang lain yang ingin nyaman ber-Facebook, apalagi bersama keluarga masing-masing.

Aku pun harus serius dalam Dharmaku saat ini, yaitu jadi peneliti yang dibayar untuk meneliti Brain-Computer Interface. Aku harus lebih banyak berbagi sesuai bidangku ini. Aku juga harus merencanakan dengan baik, agar yang kubagikan berada di ruang yang tepat, yaitu jurnal internasional yang ilmiah dengan peer review. Darah Juang!

Akhir kata, aku berterimakasih karena memiliki kawan-kawan yang masih menerima diriku apa adanya. Baik yang di dunia nyata maupun di Facebook. Baik yang masih friend dan yang sudah unfriend. Baik yang "hide timeline" maupun yang membaca posting-ku di Facebook. Kalian semua adalah yang membuatku merasa kaya. Aku juga memohon maaf atas semua informasi tak berguna yang kubagi selama ini di Facebook. Semoga kaga kapok jadi kawanku.


Bremen, 7 Juli 2014

iscab.saptocondro

Jumat, 09 Mei 2014

Membuat smartphone cacat

Sudah hampir 3 bulan, aku membuat smartphone milikku cacat. Kecerdasannya kukurangi secara sengaja. Sebelumnya, ada beberapa aplikasi jejaring sosial (online social network) di smartphone. Kini semua kuhabisi, kecuali Xing dan LinkedIn. Aku mengakses jejaring sosial di desktop saja. Kalaupun di smartphone, aku menggunakan browser dan harus melewati banyak login dengan segenap kerumitannya.

Aku mengenal perangkat genggam pertama kali ketika ia hanya memiliki kemampuan telpon dan texting SMS. Aku merasa hal ini cukup untuk berkomunikasi via perangkat genggam. Aku tidak butuh getar-getar dalam celana karena kedatangan tempelan foto Pinterest, "mention" Twitter dan Instagram dari orang yang kukenal maupun tidak, kabar terbaru dari kawan Path, dll. Aku puas dengan kemampuan telpon dan texting sederhana. Aku pertahankan aplikasi buat nelpon: telpon bernomor, Skype, Viber, Hangouts, dan Line. Aku pertahankan aplikasi texting: SMS, Whatsapp, dan Telegram.

Sejak "social media shutdown" ini, hidupku lebih mudah dan sederhana. Aku bisa menikmati mentari dan pepohonan yang menari bersama hembusan angin. Aku juga bisa menikmati bulan dan bintang yang tersipu malu di balik tarian gumpalan awan. Aku bisa mengagumi lampu kota di pinggir sungai setiap kulewati jembatan. Aku juga bisa membangun kontak mata dengan orang-orang yang kutemui di jalan, di toko, dan dalam angkutan umum. Aku bisa melihat senyum nyata manusia-manusia di sekelilingku.



***

Aku teringat masa remajaku yang tanpa perangkat genggam. Aku bisa janjian sama kawan-kawanku ke tempat makan, ke bioskop, ke acara api unggun, ke acara piknik, dll tanpa perangkat genggam. Tidak ada telpon panggilan maupun pesan teks "Di mana lu?" atau "Udah sampai di mana lu?". Akan tetapi kami pun bisa menikmati acara bersama.

Aku tidak akan membiarkan kemanusiaanku dibuat cacat oleh teknologi. Aku akan membuktikan kepada dunia bahwa "smartphone create dumb people" itu tidak berlaku bagi diriku. Aku juga tidak mau merasakan "alone together", ketika bertemu kawan-kawan hanya untuk duduk menunduk memandang perangkat genggam. Daripada kemanusiaanku dibuat cacat oleh smartphone, maka kubuat smartphone cacat saja.

Leherku sudah terlalu pegal untuk menunduk di bawah kekuasaan smartphone. Kini saatnya merebut kekuasaan itu. Leherku tidak layak untuk menunduk gara-gara smartphone. Leherku diciptakan Tuhan untuk menengadah ke atas memandang bintang-bintang di langit, karena aku tercipta dari bintang. We are all created from stars! Saatnya revolusi! Kerinduan manusia akan bintang revolusi sudah menggelora dalam jiwaku.

Kini aku membersihkan jiwaku dari kebisingan dunia maya. Apalagi tahun ini, kawan-kawanku sedang terkena eforia Jokowi versus Prabowo. Tidak ada ide besar yang dibicarakan dalam dunia online. Yang ada hanya obrolan bocah-bocah fans club selebriti politik. Kebisingan yang mirip ketika aku masih kanak-kanak, "mainan gue lebih keren daripada mainan lu". Kebisingan ini baru sekadar obrolan "my horse is bigger than your horse" dan sama sekali tidak memberi makna yang berarti bagi hidupku.

Jika hidup bisa dipermudah, mengapa harus dipersulit oleh smartphone?
Aku pun kembali kepada pekerjaanku, Dharmaku, tanpa gangguan smartphone beserta kebisingan dunia maya yang menyertainya. Aku pun bisa jujur pada diriku sendiri yang hidup dalam kesunyian dan kesendirian. Hanya segelintir kawan dekat dan keluargaku yang mengontakku. Sampai jumpa lagi di posting berikutnya!

***

Bacaan lain:
Selamat membaca.


Oldenburg, 9 Mei 2014

iscab.saptocondro

Kamis, 27 Februari 2014

Percaya

Aku selalu memiliki masalah dengan percaya diri. Suatu hari aku bertemu kawanku untuk meminta nasihat kepadanya. Dia berkata bahwa aku harus percaya kepada Tuhan. Aku pun bingung apakah ini jawaban atau solusi dari masalahku.

Setelah kurenungkan dalam-dalam, siang dan malam, aku tersadar bahwa kawanku mungkin benar. Jadi aku harus percaya bahwa diriku adalah Tuhan. Jadi aku bisa percaya diri sekaligus percaya Tuhan.


Oldenburg, 27 Februari 2014

iscab.saptocondro