Mencoba membuat lontong.
$latex \int\frac{d(tong)}{(tong)} = \ln(tong)$
Semoga sukses,
Ignatius Sapto Condro Atmawan Bisawarna bisa bicara banyak di Blogs
Mencoba membuat lontong.
$latex \int\frac{d(tong)}{(tong)} = \ln(tong)$
Semoga sukses,
Setelah musim semi Arab tahun 2011, seorang blogger Tunisia bernama Lina Ben Mhenni diwawancara mengenai sistem politik baru di Tunisia. Mau dibawa ke arah mana politik Tunisia? Kata gadis Tunisia ini, "We don't know what we want but we know what we don't want".
Kondisi Tunisia sejak tahun 2011 mirip dengan kondisi Indonesia paska 1998. Diktator turun meninggalkan sistem bobrok yang korup dan penuh tirani. Akan tetapi rakyat tak tahu mau ke mana. Sebagian ingin menggantikan pemimpin. Sebagian merindukan pemimpin yang satria piningit sekelas Imam Mahdi yang bisa jadi mesias bagi semuanya. Tapi rakyat disodorkan dengan pemilihan umum yang menyediakan calon pemimpin yang tak sesuai dengan hal-hal ideal di benak mereka.
Setelah calon tersebut duduk di dalam kepemimpinan, entah menjadi pemerintah maupun menjadi anggota parlemen (DPR), ternyata sistem busuk membuat pemimpin menjadi ikut busuk apapun latar belakang indah ketika mereka masih jadi calon. Seorang ulama jadi koruptor. Seorang rohaniwan jadi koruptor. Wanita baik-baik jadi koruptor. Rakyat kecewa. Sayangnya kita tak tahu mau dibawa ke mana arah negara ini.
Sebagian rakyat ingin negara Islam tapi sebagian lain bilang "Sorry, gua Katolik. Gua kaga akan dukung elu". Sebagian ingin negara liberal tapi sebagian lain bilang "Sorry, gua pengen mempertahankan tradisi gua. Gua kaga bakal dukung elu." Sebagian ingin pembangunan tapi sebagian lain bilang "Enak aja, rumah gua digusur. Enak aja, hutan gua disikat. Sorry, gua kaga bakal dukung elu". Mencari tujuan bersama dalam bernegara itu kaga mudah, kawan.
Tiga paragraf di atas adalah tentang tujuan bersama. Sekarang aku ingin bercerita tentang tujuan pribadi. Memiliki tujuan hidup bisa mudah bagi sebagian orang dan sulit bagi lainnya. Aku termasuk orang yang sulit dalam menemukan tujuan hidup. Bisa dikatakan kalau aku termasuk orang yang dikatakan oleh Baz Luhrmann bahwa sampai umur 40 tahun pun aku tak punya tujuan hidup. Kata-katanya bisa diperoleh dari lagu Everybody's Free to Wear Sunscreen yang menjadi soundtrack film produksinya yaitu Romeo + Juliet (1996) yang dibintangi Leonardo di Caprio dan Claire Danes.
Aku tak pernah dididik untuk memiliki tujuan hidup. Aku terdidik untuk mengikuti perintah. Orangtuaku memberiku perintah. Aku juga dididik di sekolah Katolik yang isinya adalah aturan dan pilihan yang kumiliki cuma dua: menuruti peraturan atau menerima konsekuensi jika melanggar peraturan. Negaraku memberiku tujuan hidup yaitu menjadi manusia Indonesia sesuai P4 dan sesuai pedoman "Mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga". Masyarakat juga memberiku tujuan hidup bahwa manusia itu sekolah, kuliah, cari kerja, menikah, punya anak, punya rumah, lalu mati masuk surga, apapun caranya.
Aku dilahirkan sebagai manusia yang penuh tanda tanya. Tuhan menganugerahiku dengan tanda tanya agung yang selalu kubawa bersamaku ke mana pun aku pergi. Tanda tanya ini bisa dibaca di novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh karya Dewi Lestari (True Dee). Dengan tanda tanya seperti itu tujuan hidup manusia lainnya takkan bisa menempel dengan mudah ke dalam tujuan hidupku. Aku tak pernah berhenti mempertanyakan mengenai makna hidup dan tujuan hidup. Tidak ada satu manusia pun yang bisa menghentikanku untuk bertanya. Hanya jemputan Sang Kematian yang bisa membuatku berhenti bertanya. Mungkin tujuan hidupku adalah menjadi Tanda Tanya.
Kalau ada orang yang bertanya apa tujuan hidupku, kujawab dengan jujur "Aku tak tahu. I don't know." Pewawancara kerja saja kutipu dengan kukatakan "I want to be engineer", "I want to be a researcher", dll. Aku juga menipu perempuan kalau ditanya mengenai tujuan hidup, dengan jawaban "Aku ingin bersama kamu. Kamulah tujuan hidupku." yang kadang dibumbui "till death do us part" alias "hingga kematian memisahkan kita".
Sewaktu memilih jurusan kuliah, aku kebingungan. Aku tak tahu aku ingin jadi apa. Semua test minat dan bakat yang kuikuti memberiku jawaban kalau aku bisa apa aja. Inilah kutukan Bisawarna, aku bisa segalanya, bisa warna merah, kuning, hijau, biru, putih, hitam, dll. Aku adalah seorang multitalent. It is both a gift and a curse. Di satu sisi, aku bisa belajar banyak hal baru tapi di sisi lain, aku jadi pusing dalam memilih tujuan hidup. Talenta mana yang ingin kukembangkan? Orang yang sukses biasanya orang yang memilih satu talenta dan telah menghabiskan 10000 jam hidupnya mengembangkan talenta tersebut (kata Malcolm Gladwell di bukunya: The Outliers).
Sewaktu mau daftar UMPTN, aku memilih jurusan secara acak. Aku tak tahu mau milih jurusan apa. Karena suatu kebetulan, aku bisa diterima kuliah sastra listrik di universitas gajah tapa di Bandung. Aku juga kaga tahu mau milih apa dalam bidang sastra listrik ini. Sesuai prinsip "I don't know what I want but I know what I don't want", aku menolak elektronika, persamaan Maxwell, rangkaian listrik tiga fasa, dan pemrograman. Aku memilih Kendali karena tak suka Aroes Koeat, Telekomunikasi, Elektronika, dan Komputer. Pilihan tolol. Karena di Kendali aku juga tak bisa menghindari pemrograman sewaktu tugas akhir. Aku adalah makhluk yang matematis tapi tidak logis. Jadinya berat bagiku menerjemahkan persamaan matematika yang bisa kumainkan indah dengan bolpen dan kertas ke dalam algoritma komputer. Buatku bahasa manusia lebih indah daripada bahasa pemrograman. Jawa, Sunda, Inggris, dan Jerman lebih enak kupelajari daripada C/C++, Python, MATLAB, Java, dll.
Karena kebetulan lagi, bukan karena aku punya tujuan hidup, aku pernah menjadi guru di suatu SMA dan juga dosen di suatu universitas. Aku suka mengajar dan punya pengalaman jadi guru les privat. Ketika kebetulan sedang menjemput seseorang untuk pulang bareng (ehem...), aku diajak seorang Ibu Guru untuk melamar kerja di sana. Kebetulan juga aku seorang pengangguran saat itu. Melalui proses wawancara dan test kepribadian, aku bisa jadi guru. Sebagian muridku bisa jadi kawan dugemku di Jerman saat ini. Karena aku merasa sebagai guru di SMA, kemampuanku tidak bisa berkembang maksimal serta kecintaanku pada dunia sastra listrik tak kesampaian, aku mencoba menjadi dosen. Karena kebetulan memiliki kenalan di universitas, aku melamar jadi dosen. Kena wawancara dan test kepribadian lagi, deh.
Aku selalu dilekati tanda tanya akbar dari Tuhan yang Akbar. Jadinya aku bertanya-tanya kenapa aku tak puas menjadi guru di SMA. Padahal aku suka mengajar. Gaji? Keinginan untuk mengembangkan diri? Aku juga tak puas jadi dosen. Aku bertanya dalam hatiku kenapa aku diberi tujuan hidup seorang dosen bernama Tridharma tapi tidak diberi dana, waktu, dan upah cukup untuk menjalankan ketiga Dharma tersebut. Tridharma perguruan tinggi adalah pendidikan/pengajaran, penelitian, dan pengembangan masyarakat. Aku harus mengajar untuk kuliah dan mempersiapkan bahan ajar dengan waktu terbatas. Aku harus meneliti dengan dana seadanya dan bikin paper (yang buatku paper sampah). Aku juga bosan dengan politik tempat kerja dalam setiap rapat dan pertemuan dosen. Lebih baik waktuku kuhabiskan mempersiapkan kuliah dan membaca paper daripada terlibat politik.
Suatu kebetulan menyelamatkanku dari politik terkutuk. Aku dapat beasiswa DAAD yang bisa membuatku merantau ke Bremen, Jerman. Aku melanjutkan kuliah sastra otomasi sesuai bidangku sastra listrik dan sastra kendali. Bukan karena aku memiliki tujuan hidup di bidang otomasi. Aku hanya ingin studi S2 di Jerman dan kebetulan juga aku bisa sedikit berbahasa Jerman.
Ternyata aku kena lagi dengan Rangkaian Tiga Fasa, persamaan Maxwell, dan pemrograman di universitas ini. Tiba-tiba aku dihadapkan dengan kecemasan akut. Salah jurusan?
Rangkaian tiga fasa dan ilmu-ilmu sakti dari Aroes Koeat seperti Power Converter kulewati dengan senyum kemenangan. Aku gagal dalam Mekatronika dan Electrical Drives. Ternyata aku memang tak mengerti tiga fasa dalam motor listrik. Untung ini kuliah pilihan. Setidak-tidaknya aku bisa bikin konverter. Persamaan Maxwell juga bisa kulewati dengan senyum tipis kemenangan. Tipis karena berada di ambang lulus dan tak lulus. Yang penuh darah dan air mata adalah pemrograman. Hal inilah yang bikin aku tak lulus Cum Laude di Indonesia. Ternyata di Jerman, aku kena ini lagi dan menghabiskan waktu dan uang gara-gara ini.
Kata seorang kawan, "Jika hidup terasa berat, ingatlah suatu hari, kita akan mati". Nampaknya aku tak bisa belajar bahasa pemrograman. Setelah mengobrol sedikit dengan jeruk, aku berpikir kalau aku tak mungkin belajar pemrograman dalam keadaan hidup. Aku harus mengakhiri hidupku.
Pada ulang tahunku ke-29, aku bangun pagi dan menerima email kalau aku dipecat (atau diusulkan untuk dipecat) dari universitas di Indonesia. Kosong. Hampa. Aku pergi keluar rumah. Tanpa teman untuk curhat. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Hidupku berakhir? Aku menelpon wanita yang kucintai. Biasanya dia mau ngobrol dikit dan setidak-tidaknya mengucapkan selamat ulang tahun untukku di hari itu. Dia tidak ada. Ketika dia mengangkat telponku, dia sedang bersama pria lain yang jadi kekasih barunya. Waktu yang tak tepat buat curhat. Dia juga nampaknya lupa ulang tahunku. Cintaku kandas. Tiba-tiba dunia berputar. Napasku sesak. Terima kasih, Tuhan! Aku mati hari itu.
Setelah kematianku, aku bangkit berdiri menatap langit. Seperti kata Ibu Harper kepada Alan Harper dalam film seri Two and The Half Man, manusia perlu merasakan jatuh ke tempat terdalam sehingga dia sadar bahwa satu-satunya jalan adalah ke atas karena dia sudah tak mungkin jatuh ke bawah lagi. Kalau Syekh Siti Jenar mencapai tahap manunggal kawula ing Gusti, aku mencapai tahap manunggal kawula ing Seda. Aku telah bersatu dengan kematian.
Dalam keadaan hidupku dahulu, aku tak sanggup belajar pemrograman. Setelah kematianku, aku bisa belajar bahasa pemrograman baik baru maupun lama dengan cepat. Aku bisa mudah memindahkan persamaan matematika di kertas ke dalam algoritma pemrograman. Aku juga tak pernah khawatir dengan uang setelah kematianku. Aku hamburkan uangku untuk seminar pengembangan diri, cara menulis yang baik, makan-makan dan nonton bersama teman-temanku di Bremen, dll. Aku rela menghabiskan waktuku untuk belajar pemrograman step-by-step tanpa peduli pendapat orang lain yang menuntutku untuk cepat, makan dan nonton bersama kawan, dll. Aku jarang menolak undangan makan-makan di Bremen, baik gratis maupun bayar. Aku hanya menolak kalau bentrok jadwal.
Kusadari bahwa kematian memberikan keseimbangan di alam. Kematianku membuat hidupku seimbang antara memberi dan menerima. Memberi ilmu dan menerima ilmu. Memberi kebahagiaan dan menerimanya. Memberi uang dan menerimanya. Uang tidak dibawa mati. Tidak ada uang, puasa sejenak dan pinjam sebentar. Ada uang, makan enak dan bayar utang. Aku sadar bahwa aku harus menyadari siapa aku. Aku sadar bahwa aku memang tak punya tujuan hidup dan jangan membebani diriku dengan mencari tujuan hidup. Kematianku menyadarkanku bahwa aku harus bersatu dengan jagat alias universe. Biarlah Sang Jagat (Universe) membawaku kemanapun ia mau.
Kuikuti jalan hidup yang kebetulan kupilih, yaitu sastra otomasi. Kuselesaikan studi ini. Lalu kucari kerja secara acak. Yang penting, sesuai bidang. Aku pernah mencoba melamar kerja sebagai programmer C++. Ketika aku ditanya mengenai polimorphisme dan inheritance, aku bengong. Ternyata kemampuan C++ milikku pas-pasan. Mencari kerja mirip dengan mencari jodoh. Kalau sering ditolak, pilihannya dua yaitu makin merasa rendah diri atau jadi makin tahan banting. Karena aku tak punya tujuan hidup, aku berdiri di antara keduanya. Aku tak punya jati diri.
Suatu kebetulan datang lagi, aku diterima kerja di perusahaan yang terletak di jantung Jerman. Disebut jantung, karena lokasinya pas di tengah Jerman, yaitu Thuringen. Jantung Jerman ini merasakan trauma tirani Hitler dan tirai komunisme Jerman Timur. Runtuhnya tembok Berlin membuat Jerman bersatu memiliki jantung ini.
Perusahaan di jantung Jerman ini menempatkanku di perusahaan lain di Bayern. Perusahaan komponen kendaraan bermotor. Aku bekerja di kantor pusatnya. Ini karena litbangnya berada di sana. Kulihat peta kantor-kantornya. Tidak ada kantor di Indonesia. Aku bertanya dalam hatiku, apakah Indonesia masuk dalam tujuan hidupku. Nampaknya tidak. Aku memilih menjadikan Jerman jadi tujuan hidup sementara. Aku bekerja di tempat ini sampai putus kontrakku. Aku menjadi test engineer di perusahaan ini. Pekerjaan utamaku hanya mengetes perangkat lunak yang telah di-flash ke dalam ECU mobil. Pekerjaan lain adalah mengembangkan test bench baik perangkat keras maupun lunak. Kata Syekh Siti Jenar, ini namanya manunggal software ing hardware. Aku juga tak tahu yang kutes itu perangkat keras atau lunak karena keduanya telah bersatu.
Walau sudah jadi engineer, aku tetap tak tahu mau jadi apa aku. Aku tak punya tujuan hidup. Aku menerima diriku apa adanya, lengkap dengan jati diriku, identitasku. Aku punya berbagai topeng jati diri: guru, programmer, engineer, blogger, pecinta, tukang nonton, penikmat musik, facebooker, dll. Identitasku kudapatkan secara kebetulan bukan karena aku memiliki tujuan hidup. Aku tak ingin membebani diriku dengan mencari jati diri dan mencari tujuan hidup.
Nampaknya tujuan hidup yang saat ini kumiliki ada tiga (mirip Tridharma, yah?):
Mas Nugie menyanyikan lagu di hari kematianku dulu, yaitu Lentera Jiwa.
Cocok buat yang punya masalah dengan tujuan hidup.
***
Tentang musim semi Arab bisa lihat wiki atau guardian.
Atau bisa baca tulisan Mbak Merlyna Lim tentang sosial media dan gerakan oposisi di Mesir tahun 2004 hingga 2011, juga presentasinya, dan catatannya, serta wawancaranya bersama Slate.
Tentang Mbak Lina Ben Mhenni, bisa lihat blognya "A Tunisian Girl" atau baca wiki (en/de/fr) atau berita dari Guardian. Beliau masuk nominasi hadiah Nobel.
Kalau mau tahu lagu Everybody's Free to Wear Sunscreen dari Baz Luhrmann bisa lihat dua versi. Lagu ini muncul di film Romeo + Juliet ketika Juliet menemui Romeo di gereja secara sembunyi-sembunyi.
Versi 5 menit, katanya asli.
Versi 7 menit, kayanya kaga asli. Tapi ada teks bahasa Spanyolnya.
***
Akhir kata, aku hanya bilang begini tentang tujuan hidupku,
"I don't know what I want but I know what I don't want."
Nürnberg, 14 April 2012
Selain dari Saykoji dan dari tokoh politik Indonesia, lagu Indonesia Pusaka dari band Superman is Dead ini cukup menarik.
Indonesia Pusaka yang penuh semangat. (link)
Pusaka Indonesia kini masih tinggal di Nürnberg, Bayern, Jerman.
Nürnberg, 4 April 2012
iscab.saptocondro
Optimiscab : hop fading
Pesimiscab : hope fading
Optimiscab : membaca berita sains dan teknologi
Pesimiscab : membaca berita politik tentang Indonesia
Optimiscab: Mendengar musik Indonesia tahun 80-an dan 90-an
Pesimiscab: Mendengar musik Indonesia masa kini
Optimiscab: Menertawakan kebodohan baik yang dilakukan diri sendiri maupun orang lain
Pesimiscab: Menyesali kebodohan diri sendiri dan mengutuk kebodohan orang lain
Optimiscab: Mengikuti acara-acara PPI Jerman yang berhubungan dengan musik, olahraga, kesenian, dan makan-makan
Pesimiscab: Mengikuti diskusi dan rapat organisasi Indonesia di Jerman dan Eropa baik online maupun offline.
Optimiscab: Berkenalan dengan banyak orang baru, baik perempuan maupun laki-laki
Pesimiscab: Mencari jodoh
Optimiscab: Mempercayai diri sendiri
Pesimiscab: Mempercayai kata-kata orang lain
Optimiscab: Love is a verb
Pesimiscab: Love is a noun
Nürnberg, 26 Maret 2012
Salah satu hal yang berhubungan dengan menipu diri sendiri adalah ketika mengatur anggaran belanja. Lebih tepatnya, ketika mengatur pengeluaran. Cara mengatur pengeluaran adalah dengan menulis biaya hidup kita di atas kertas. Mana yang biaya rutin bulanan, tahunan, dll. Berapa alokasi biaya pangan, sandang, papan/rumah, kebersihan (mandi, cuci, bersih-bersih), rekreasi, studi, dll.
Aku kenal banyak kawan, biasanya Indonesia, yang juga suka menipu diri sendiri dengan berkata bahwa pengeluaran bulanan gua cuma segini. Tapi aku tidak yakin bahwa pengeluarannya cuma segitu.
Cara pertama menipu sendiri adalah dengan tidak menulis biaya hidup di atas kertas. Jadi dia menipu ingatannya kalau dia pernah punya rencana pengeluaran sekian euro atau rupiah. Kalau aku bertanya, dia bisa balik nanya "Ah, emang gua pernah bilang gitu?".
Cara kedua menipu diri sendiri dengan membuat biaya hidup dengan menekan pengeluaran dengan cara tidak realistis. Aku punya kawan yang bilang mengalokasikan biaya belanja pangan 15 euro per 2 minggu. Aku cuma bisa berdehem "hmmmm". Kalau dia masak di rumah tiap hari dan kaga pernah makan keluar, mungkin habis 1-2 euro per hari. Angka 15 euro itu nampak realistis karena temanku bisa kaga makan 1 hari lalu hari berikutnya makan. Tetapi buatku, menyiksa diri sendiri bukanlah cara yang baik untuk menekan pengeluaran. Aku hanya sukses menyiksa diri sendiri dengan penghematan pangan ekstrem selama masa 3 bulan. Setelah itu, aku tak sanggup. Aku harus menikmati hidup juga. Temanku ternyata menipu diri sendiri. Pengeluarannya buat pangan ternyata di atas 15 euro per 2 minggu (30 euro per bulan). Dia juga suka beli kebab 3,5 euro kalau kaga masak di rumah.
Cara ketiga menipu sendiri adalah dengan mengomentari rencana anggaran kawan lain sambil berkata "Coba kurangi pengeluarannya! Masa sih kaga bisa dihemat lagi". Temanku di atas emang kuakui sangat lihai dalam menghemat biaya makan. Tapi untuk biaya pakaian/sandang, dia termasuk tipe "spender". Tiap bulan, ada pakaian baru, entah baju, celana, sepatu, parfum, dll. Kalau aku lihat, "Hmmm. Itu sepatu setidak-tidaknya 10 euro", pikirku. Celana "Angebot" minimal 6 euro, dll. Sebetulnya membeli sedikit barang murah dalam tingkat keseringan tinggi biayanya bisa sama aja dengan membeli barang mahal dalam jumlah sedikit. Yang menyebalkan adalah kalau temanku ini mengeluh mengenai biaya hidup sambil menuduh orang lain punya penghasilan lebih besar daripada dirinya sendiri. Yang dituduh biasanya kesal. Temanku ini pernah didamprat teman lain karena hal ini.
***
Prinsip menghitung anggaran hidup atau pengeluaran bulanan.
Biaya tak terduga adalah biaya akibat hal-hal yang tak diduga. Salah menghitung pengeluaran juga termasuk hal yang tak kita duga. Jadi angka ketidakpastian 10-30% membantu kita untuk tidak kaget kalau pengeluaran bulanan ternyata tidak sesuai dengan rencana penghematan kita akibat kita suka menipu diri sendiri.
***
Contoh caraku menghitung anggaran hidup atau pengeluaran
Semua biaya di atas, mengasumsikan gaya hidup sebagai single di Jerman. Kalau biaya buat mereka yang berkeluarga bisa berbeda. Cara mengaproksimasinya adalah dengan koefisien sebagai berikut.
Silahkan lihat contoh biaya hidupku dulu di Bremen di sini. Biaya hidupku di Nürnberg masih kuaproksimasi. Jadi belum selesai kuhitung.
Nürnberg, 11 Maret 2012
Sebagai orang Indonesia, aku termasuk orang yang masih sering menipu diri sendiri. Satu contohnya, aku masih suka memajukan jam lima atau sepuluh menit. Teman-temanku dari Indonesia juga suka melakukan ini. Kalau mereka ditanya kenapa, jawabnya supaya tidak telat, supaya bisa bangun lebih awal, dll. Kalau ditanya lebih kritis lagi, apalagi oleh orang Eropa, teman-temanku bisa gelagapan menjawab.
Aku sempat mengobrol dengan kawan-kawan Eropaku tentang kebiasaan memajukan jam yang dimiliki oleh banyak orang Indonesia. Bagi mereka, kebiasaan ini "does not make sense" (English-speaking) atau "Das ist Unsinn!" (Deutsch/ German-speaking). Kawan-kawan Eropaku berpikir kalau kita sudah tahu jam tangan bergeser sepuluh menit, tentu kita tahu jam berapa sekarang sesungguhnya. Masalah telat maupun tidak telat bukan terletak pada apakah jam di tangan kita digeser beberapa menit melainkan pada niat kita untuk datang tepat waktu atau tidak. Begitulah cara berpikir kawan-kawan Eropaku.
Aku punya kawan Indonesia yang sempat marah karena ada orang Jerman berkata bahwa kebiasaan memajukan beberapa menit adalah hal yang "nonsense". Kawan Indonesiaku ini bilang orang Jerman ini aneh. Aku hanya tersenyum. Orang Jerman biasa berbeda pendapat dan bisa mengemukakan pendapatnya blak-blakan. Teman Indonesiaku ini marah karena kebiasaan memajukan jam 10 menit adalah bagian dari identitasnya. Siapa yang tidak marah kalau tradisi alias kebiasaan diremehkan serta identitas diinjak-injak. Buatku sih, temanku ini sedang tidak siap menerima kenyataan.
Aku berpikir kalau aku tahu jamku maju sepuluh menit, tentu aku sadar jam berapa sekarang. Kalau bangun pagi dan lihat jam tersebut dengan pengetahuan bahwa jam kumajukan sepuluh menit, aku tetap tahu jam berapa sesungguhnya sekarang. Jadinya memang betul, memajukan 30 menit pun tidak akan mengobati masalah ketidaktepatan waktu.
Masalah lain adalah kalau ada orang Eropa bertanya jam berapa sekarang, kita harus menghitung dulu jam berapa sesungguhnya sekarang. Suruh siapa, ya, memajukan beberapa menit. Menghitung ini butuh waktu. Berapa lama menghitungnya tergantung kondisi mental kita. Hal inilah yang memancing orang Eropa bertanya kenapa kita memajukan jam beberapa menit. Pada kondisi mental yang tak siap, kita bisa marah-marah kalau mendapat pertanyaan kritis.
Nah, walaupun aku tahu bahwa memajukan jam beberapa menit itu "nonsense" atau "Unsinn", aku tetap memajukan jamku sepuluh menit. Kenapa? Karena sepuluh menit adalah prediksi waktu tempuh dari pintu rumahku ke halte kereta bawah tanah terdekat kalau aku jalan santai. Jadinya kalau aku lihat jam ketika aku usai mengunci pintu rumah/apartemen, aku tahu kira-kira jam berapa aku sampai halte/stasiun kereta.
Ke depannya, aku butuh mobile apps yang cocok buatku yang senang menipu diri sendiri ini. Mobile apps ini harus bisa menunjukkan beberapa mode waktu pada layar telpon genggam: waktu sesungguhnya, waktu dimajukan (mode menipu diri sendiri), waktu di kota lain, dll. Kalau apps ini belum ada, berarti aku harus belajar membuat apps sendiri.
Nürnberg, 11 Maret 2011