Kamis, 27 Februari 2014

Percaya

Aku selalu memiliki masalah dengan percaya diri. Suatu hari aku bertemu kawanku untuk meminta nasihat kepadanya. Dia berkata bahwa aku harus percaya kepada Tuhan. Aku pun bingung apakah ini jawaban atau solusi dari masalahku.

Setelah kurenungkan dalam-dalam, siang dan malam, aku tersadar bahwa kawanku mungkin benar. Jadi aku harus percaya bahwa diriku adalah Tuhan. Jadi aku bisa percaya diri sekaligus percaya Tuhan.


Oldenburg, 27 Februari 2014

iscab.saptocondro

Sabtu, 24 Agustus 2013

Kicauan Republik Kelamin Mencari Perawan

Pada suatu hari, burung kuntul berkicau di Republik Kelamin. Ia berkicau tentang suatu test keperawanan. Karena burung kuntul merasa hal-hal kelamin lebih penting daripada kasus korupsi migas hasil ngecrot dari dalam bumi. Hal-hal kelamin ini juga lebih penting daripada mata uang Republik yang nilainya menurun bila dibandingkan dollar (dan mata uang Eropa).

Di Republik ini, Kelamin über Alles, seperti ramalan The PanasDalam. Selain meramal band ini juga bercerita tentang Cita-cita Republik Kelamin, dengan semboyan "Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Di mana ada kemaluan, di sana banyak persoalan".

OK, semboyan The PanasDalam sesungguhnya adalah "Argumentum in absurdum". Jadi Republik Kelamin ini betul-betul se-absurd tulisan ini. Dalam jurnalisme, kita kenal 5W+1H (what, where, when, who, why, how). Apa itu perawan? Apa itu test keperawanan? Di mana dan kapan perawan? Siapa perawan? Mengapa test keperawanan? Bagaimana test keperawanan? Akankah pertanyaan tersebut dijawab dengan absurd, mari baca posting ini lebih lanjut.

***

Artikel KOMPAS menyebutkan test keperawanan untuk masuk sekolah perlu dijadikan undang-undang oleh Zainal Alim, Sekretaris MUI Pamekasan.
Zainal mencari perawan

Jadi menurut Zainal, perlu ada sekolah untuk perawan dan sekolah lain untuk bukan perawan. Jadi perlu ada diskriminasi hak memperoleh pendidikan antara yang perawan dan yang bukan. Hal ini sebetulnya melanggar Pancasila sila ke-3 dan ke-5, UUD pasal  31 ayat 1, serta UU Sistem Pendidikan Nasional 2003.

Zainal juga mengasumsikan bahwa ada ahli keperawanan. Aku menduga Zainal dulu pernah masuk kuliah kedokteran, lalu mengambil spesialisasi di bidang kandungan, sistem reproduksi, ginekologi, dan semiripnya. Sehingga ia tahu bahwa dalam kedokteran, ada ahli keperawanan. Ia mengasumsikan bahwa ahli keperawanan tahu perbedaan antara deformasi selaput dara setelah mengalami hubungan seks, setelah kecelakaan, dan setelah olahraga.

***

Menurut Ayu Utami di Deutsche Welle, test keperawanan itu penghinaan martabat manusia.
Standar selaput dara yang perawan

Menurut Ayu Utami, test keperawanan berdasarkan selaput dara itu absurd. Secara teknis, harus ada standar selaput dara yang universal untuk menentukan bentuk ini perawan dan bentuk itu bukan. Aku jadi teringat era fasisme Hitler tahun 1930-an hingga 1940-an, ada suatu standar yang ini Jerman dan yang itu bukan, yang ini Yahudi dan yang itu bukan. Yang Jerman asli dapat akses pendidikan lebih dari yang bukan. Yang bukan Jerman asli, kadang dihabisi. Yang Yahudi juga dihabisi. Standar selaput dara menimbulkan fasisme perawan.

Selain itu, selaput dara bisa dioperasi pemudaan. Jadi wanita yang sudah berkali-kali berhubungan seks dengan banyak pria maupun berbagai mainan, bisa kembali memiliki selaput dara baru. Dengan asumsi perawan itu mereka yang memiliki selaput dara indah sesuai standar, wanita seperti ini bisa kembali "perawan". Aku pun ingin bertanya kepada Dewi Persik, gimana caranya operasi ini dan ingin melihat dengan mata sendiri bagaimana hasilnya.



***

Di Jurnal Perempuan, Mariana Aminudin berpendapat bahwa tes keperawanan itu kebodohan yang mempermalukan perempuan. Pada artikel tersebut, test keperawanan dilakukan dengan cara memasukkan dua jari ke dalam vagina perempuan. Aturannya cuma satu “Kalau jari saya mentok berarti masih perawan”.

Mitos selaput dara

Jika standar test keperawanan itu berdasarkan mitos, sekolah menjadi tidak lagi mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat UUD 1945. Metode colok 2 jari ini, juga bisa saja bersifat traumatis bagi perempuan. Siswi yang masih remaja harus deg-degan berbaris menuju suatu ruangan. Ia dipaksa oleh negara untuk mengangkang kemudian alat pribadinya dilihat orang asing, dipegang, dan dibuka dengan jari. Saat itu, vaginanya bukan miliknya lagi. Vaginanya dipegang dan ditusuk dengan jari dengan paksaan negara.

Sesungguhnya wanita yang diperkosa itu terjadi ketika tubuhnya direnggut paksa bukan atas kehendaknya sendiri. Dalam pemerkosaan, wanita kehilangan kontrol atas tubuhnya. Tubuhnya menjadi milik pemerkosanya. Dalam test keperawanan oleh negara, wanita pun merasakan kehilangan yang sama atas alat genitalnya. Tubuh jadi milik negara. Negara berhak mengobok-obok vaginanya tanpa peduli apa yang diinginkan perempuan yang memiliki vagina.

Test keperawanan jadi aturan hukum?

***

Adakah test keperawanan yang tidak perlu mengobok-obok vagina?

Seperti yang diceritakan Om Anton, dulu ada test keperawanan menurut Soekarno. Test ini berhubungan dengan simetri pentil payudara.

Test keperawanan seperti di atas juga sebetulnya mitos. Penjelasan rasionalnya, pentil yang di bawah garis mungkin terjadi karena wanita tersebut telah mengalami fase hamil dan kemudian menyusui. Biasanya wanita hamil itu tidak perawan, di zaman Soekarno. Zaman sekarang, ada inseminasi buatan, jadinya wanita bisa saja hamil tanpa berhubungan seks. Metode Soekarno tersebut juga gagal diterapkan di masa kini, karena penemuan push-up bra.

Pesanku tentang push-up bra adalah "Wanita yang percaya diri adalah wanita yang menonjolkan kelebihannya, bukan melebihkan tonjolannya."

***

Bukan hanya Soekarno yang mencoba membuat teori keperawanan tanpa mengobok-obok vagina. Males Banget dot com juga mencoba membuat test keperawanan berdasarkan kuis. Menurut Test Keperawanan MDBC ini, tidak bisa kuketahui apakah aku perawan atau tidak. Semoga hasil test ini tidak ada hubungannya dengan bencana toilet yang kualami waktu itu.

***

Kupikir-pikir isu keperawanan di Republik Kelamin ini hanyalah suatu bentuk "escape from reality" alias pengalihan isu dari kenyataan adanya kasus korupsi Migas yang mungkin melibatkan partai penguasa dan adanya penurunan nilai mata uang yang menunjukkan gejala awal krisis ekonomi.


***
Mari kita dendangkan kicauan absurd Republik Kelamin. 
Tiada yang lebih logis daripada sarkasme.












***

Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.
Di mana ada kemaluan, di sana banyak persoalan.


***

Bremen, 23 Agustus 2013

iscab.saptocondro

Disclaimer:
Tulisan "Republik Kelamin Mencari Perawan" ini tidak memiliki hubungan dengan acara "Indonesia Mencari Bakat"

Senin, 15 Juli 2013

Empat tahun telah berlalu

Empat tahun yang lalu, aku dihadapkan pada suatu kenyataan yang membuatku merenungkan tujuan hidupku. Aku merenungkan mengenai untuk apa aku hidup, di mana rumahku, menjadi apa aku ini, ke mana aku melangkah, dan segenap pertanyaan tentang makna hidup dan jati diri. Tahun ini, aku berada di persimpangan lagi karena dihadapkan kenyataan lain yang membawaku kepada perenungan yang sama.

Tahun lalu, aku pergi ke Indonesia, mudik menemui ayah dan bunda. Aku merasa bahwa aku harus kembali ke akar, untuk menemukan jati diriku, dari mana aku berasal. Aku ingin mendapatkan suatu jawaban masihkah Bandung rumahku. Banyak sekali perubahan selama 6 atau 7 tahun meninggalkan Bandung. Rumahku berbeda (bangunan dan suasana). Kawan-kawanku memiliki dinamika sosial yang berbeda. Di Bandung, aku pun tak menemukan jawaban, di mana rumahku. Yang tersisa hanyalah suatu kerinduan menemui keluargaku dan teman-temanku, tempatku bertumbuh.

Tahun ini, aku kembali ke Bremen. Kota ini seperti rumahku yang lain, setelah kutinggalkan sejenak. Pada mulanya aku gembira bisa bertemu kawan-kawan lama di Bremen. Bahkan beberapa orang yang telah meninggalkan kota ini, kembali lagi untuk melanjutkan studi doktoral. Sesaat aku merasa bahwa aku memiliki suatu takdir di kota ini. Walau dinamika sosialnya berbeda dengan orang-orang baru, untuk sesaat aku merasa Bremen bisa menjadi rumahku.

Akan tetapi, pada suatu hari di musim semi, aku membuka apartemenku di Bremen. Ada perasaan aneh melingkupi diriku. Ada yang salah dengan rumahku. Suatu firasat mengatakan bahwa kota ini bukan rumahku. Aku merasakan bahwa aku harus bergerak dan berkelana. Di kantor di Bremen, aku pun merasakan ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang mengatakan bahwa pekerjaan di sana bukan untukku dan aku bukan menjadi diriku. Tak berapa lama kemudian, aku dinyatakan pada kenyataan yang mengonfirmasikan intuisiku.

Kini aku dihadapkan suatu pertanyaan eksistensialis yang sama dengan empat tahun lalu. Apakah aku berada di jalan hidup yang tepat untukku? Di saat itu, aku kehilangan sebagian jati diriku, yang mendefinisikan tujuan hidupku dalam karir dan cinta. Kini aku pun merasakan kehilangan yang sama. Aku pun harus kembali menata hidupku dan menemukan "meine Bestimmung" (apa yah terjemahan Bahasa Indonesianya?).

Aku mulai mempertanyakan siapakah kawanku, apakah aku memiliki sahabat, apa makna jejaring sosial bagi diriku, apa makna diriku bagi kawan, keluarga dan jejaring sosial yang kumiliki. Aku melihat apa saja yang dikerjakan kawan-kawan di Indonesia, di Jerman, terutama Bremen, dll. Apa pilihan karir mereka? Bagaimana mereka berkeluarga di tempat masing-masing? Kemudian kubandingkan dengan diriku, dengan mereka. Bagaimana jika aku hidup, bekerja dan bekeluarga, di tempat mereka? Jakarta? Bandung? Bremen? Singapura? Australia? Belanda? Swiss? USA?

Aku pun bertanya kepada kawan-kawan yang dekat di hatiku. Bagaimana awalnya mereka memilih pilihan karir mereka, baik industri maupun akademesi. Bagaimana pengalaman memilih bidang studi dan topik penelitian. Kini aku mengerti apa makna jejaring sosial yang kumiliki. Ternyata mereka memberiku cermin. Aku belajar mengenai apa saja yang bisa aku kerjakan, apa saja pilihan karir yang bisa kupilih, dll. Aku merasa mendapatkan secercah cahaya inspirasi, bahwa aku bisa bekerja di mana saja namun aku harus siap berkelana lagi.

Yah, aku harus bergerak. Aku harus mengembara. Rumahku adalah planet bumi. Aku tidak boleh terikat pada satu tempat dan satu jejaring sosial dengan ikatan geografis. Aku belum tahu ke mana, namun aku meraih segenap kesempatan untuk menemukan makna hidupku.

Empat tahun telah berlalu. Saat itu, adalah satu hari di mana kekuatiran lenyap setelah setahun sebelumnya aku hidup terombang-ambing. Hari itu jiwaku seperti dibersihkan dari segenap emosi negatif. Perasaanku seperti suatu cangkir berisi air kotor, kemudian dalam sehari isi cangkir tersebut dibuang dan dikosongkan. Cangkir kosong tersebut siap diisi dengan sesuatu yang baru. Perasaanku kini mirip empat tahun lalu, aku merasakan kehampaan yang sama bagai cangkir kosong. Aku siap menyambut suatu pembaharuan dalam hidupku.

Hari ini, aku memperingati kehampaan ini. Aku tak tahu akan ke mana. Namun aku merasa dalam waktu dekat akan ada suatu perubahan besar dalam hidupku yang memberi jawaban akan pertanyaan makna hidupku. Diriku diliputi perasaan penuh rasa syukur atas segenap pengalaman hidup dan jejaring sosial di berbagai kota di Indonesia, Jerman, dll. Aku yakin pengalaman dan kawan baru akan kudapatkan dalam langkah selanjutnya dalam perjalanan hidupku. Jiwaku merasa dipenuhi dorongan untuk bergerak menyambut setiap kesempatan bagaikan menghadapi suatu hadiah kejutan (surprise) dari Semesta. Surprise me, oh, Universe!


Empat tahun berlalu, dalam suatu kehampaan jiwa dan kepenuhan syukur, aku pun bertanya akan ke mana. Lagu Diana Ross "Do you know where are you going to?" pun menemaniku dalam perenungan ini.




Bremen, 15 Juli 2013

iscab.saptocondro

Selasa, 09 Juli 2013

Topik menarik blogku, 9 Juli 2013

Hari ini, aku melihat topik apa saja yang dibaca orang dari blog iscab milikku. Gambar berikut menjelaskan kategori dan tag apa saja yang menarik dari blogku.


Topik populer, 9 Juli 2013


Ternyata orang lebih berminat membaca tulisanku yang serius. Aku memang tidak berbakat untuk melucu. Tulisanku yang absurd tidak menarik untuk dibaca. Akan tetapi banyak yang mencari kuntilanak merah di Bayern dengan bernyanyi lagu lingsir wengi. Pembaca sedang tertarik tulisanku tentang wisuda di ITB, mungkin karena akhir minggu ini ada acara itu di sana. Topik tentang cinta termasuk hal yang dibaca orang dari blogku. Aku bingung kenapa tulisanku tentang Bremen tidak semenarik Bayern.

Aku pun merenung. Sepertinya supaya tulisanku menarik, aku harus menulis hal serius, contohnya politik dan filsafat. Kemudian ada tulisan selingan tentang cinta. Tentu saja, bukan tentang bercinta dengan kuntilanak merah, walaupun itu topik populer sementara ini. Aku pun teringat petuah, "Rajin-rajinlah menulis karena writing tresno jalaran soko kulino".

Bremen, 9 Juli 2013

iscab.saptocondro

Minggu, 30 Juni 2013

Ngarso Madyo Wuri, akhir Juni 2013

Dulu aku teringat Sabda Mbah Gossip ketika meninggalkan Bremen.
Ing ngarso Signal Processing. Ing madyo Matematiko. Tut Wuri Control Engineering.

Kemudian aku bertemu Mbah Gossip lagi ketika mendendangkan lagu untuk kuntilanak di Bayern.
Ing ngarso Sepulturo. Ing madyo Metallico. Tut Wuri Obituary.

Sekembalinya ke Bremen, Mbah Gossip pun berkicau.





Kicauan Mbah Gossip ini menghiburku setelah seluruh sel otak dalam kepalaku terbakar menghadapi pertanyaan wawancara untuk penelitian pengolahan sinyal otak dan suara. Entah hasilnya seperti apa. Kutunggu jandamu, eh, kutunggu hasilnya seminggu kemudian.


Bremen, 30 Juni 2013

iscab.saptocondro

Senin, 17 Juni 2013

Belajar singkatan 2013

Berhubung aku kurang gaul, kali ini aku belajar singkatan-singkatan penting. Dengan belajar hal ini, kuharapkan aku bisa lebih baik dalam berkomunikasi, baik dalam obrolan ringan hingga dunia perjodohan. Singkatan-singkatan ini kupelajari setelah membaca males banget dot com.

***

saptocondro: "Apa itu PHP?"
iscab: "Pemberi Harapan Palsu"
saptocondro: "Oh, jadi bukan Personal HomePage atau PHP: Hypertext Preprocesor, yah?"
iscab: "Bukan!"
saptocondro: "Oh, pantas aja, gua bingung kenapa cewek suka galau gara-gara bahasa pemrograman PHP. Gua kira para PHP programmer dan webdesigner bikin cewek jadi galau. Untung gua cuma tahu MATLAB, C++ dan Python doang"

***

saptocondro: "Apa itu PHO?"
iscab: "Perusak Hubungan Orang."
saptocondro: "Oh, jadi bukan PHO yang nama masakan Vietnam, yah?"
iscab: "Bukan!"
saptocondro: "Oh, pantas aja, gua bingung kenapa mie kuah ala Vietnam dibenci sama orang korban tikungan. Padahal Pho Bo kan enak, bo!"

***

saptocondro: "Apa itu PK?"
iscab: "Penjahat Kelamin."
saptocondro: "Wah, aku kira PK itu nama partai politik."
iscab: "Bukan!"
saptocondro: "Nah, kalau PKS itu singkatan apaan?"
iscab: "..."

***

Pelajaran singkatan gaul belum usai. Aku masih perlu banyak belajar demi pergaulan. Tunggulah hasil belajarku berikutnya.


Bremen, 17 Juni 2013

iscab.saptocondro

Minggu, 09 Juni 2013

Padamkan mataku

Tiga tahun lalu, di miliscab, aku pernah menulis tulisan di bawah ini.

***

Padamkan mataku, aku tetap bisa melihatmu,
Sumbatlah telingaku, aku tetap bisamendengarmu,
dan tanpa kaki, aku masih bisa menuju dirimu,
dan tanpa mulut, aku masih dapat memohon padamu.
Putuskan tanganku, aku tetap memegangmu
dengan jantungku bagaikan dengan tanganku,
Remaslah jantungku, dan otakku akan tetap berdetak,
dan lemparkan bara dalam otakku
maka aku akan tetap membawamu dengan darahku.

Puisi di atas adalah karya Rainer Maria Rilke (1875-1926).
Puisi ini salah satu hal yang menginspirasi diriku untuk pergi merantau ke Jerman.
Dalam hidup, cinta, dan studi selalu ada banyak tantangan. Terimalah tantangan sebagaimana adanya.
Melarikan diri dari tantangan sudah kulakukan berkali-kali. Begitu juga menghadapinya dengan tegar.
Jangan terlalu kecewa ketika semua rencana berantakan. Itu bagian hidup yang harus dilewati.

Jangan terlalu kecewa ketika rencana studi 2 tahun berantakan karena tiba-tiba di tengah jalan lentera jiwamu padam.
Entah karena kamu lupa bawa korek atau karena angin dingin bertiup memadamkan lenteramu.

Jangan terlalu kecewa ketika bangun di pagi hari di hari ulang tahun menerima surat pemecatan dan di sore hari di hari yang sama, kekasihmu pergi bersama yang lain dan memutuskan tak dapat bersamamu kembali.

Jangan terlalu kecewa ketika kau tak dapat masuk ke dalam taman hati orang-orang yang kaucintai. Mungkin memang belum saatnya opening hour, hahaha.

Jangan terlalu kecewa ketika kau pindah jurusan karena mereka tak bisa meluluskanmu. Mungkin jurusan baru lebih cocok untuk membuat bunga dalam taman jiwamu mekar berseri. Daripada jurusan lama yang penuh semak belukar menghimpit bunga tersebut. Kadang-kadang dibutuhkan keberanian lebih besar untuk mengakui kegagalanmu daripada perjuanganmu melawan kegagalan.

Jangan terlalu kecewa ketika kau kesepian. Percayalah bahwa banyak orang kesepian di sini. Tapi mereka terlalu malu mengakuinya. Mungkin kebersamaan kita tak cukup menyembuhkan rasa sepimu, tapi percayalah bahwa kesepian tidak bisa disembuhkan sendirian. Kamu juga patut berterimakasih kepada mereka yang memberimu kesibukan beserta deadline-deadline, karena itu bisa membuatmu lupa sejenak akan kesepian.

Jangan terlalu kecewa kalau aku dan teman-temanmu tidak ada untukmu ketika kamu membutuhkan. Kau tahu, kami juga punya kesibukan masing-masing. Percayalah bahwa kamu selalu memiliki tempat di hatiku dan sedikit waktu di jadwalku.

Jangan terlalu kecewa ketika kau buka matamu dan tak kaulihat masa depan. Tunggu sejenak dengan sabar, percayalah bahwa kamu bisa menemukan korek api di kantong hatimu untuk menyalakan lentera jiwamu. Jangan takut akan kegelapan lalu panik mengikuti lentera orang lain. Apa yang cocok buat mereka belum tentu cocok buat dirimu.

***

Cukup sudah basa-basinya. Kembali ke puisi Rilke.
Terjemahan tidak pernah seindah puisi asli.
Puisi asli ada di bawah ini, judulnya "Lösch mir die Augen aus".


Lösch mir die Augen aus: ich kann dich sehn,
wirf mir die Ohren zu: ich kann dich hören,
und ohne Füße kann ich zu dir gehn,
und ohne Mund noch kann ich dich beschwören.
Brich mir die Arme ab, ich fasse dich
mit meinem Herzen wie mit einer Hand,
halt mir das Herz zu, und mein Hirn wird schlagen,
und wirfst du in mein Hirn den Brand,
so werd ich dich auf meinem Blute tragen.


Selamat Hari Minggu!
Walau kelabu, senandung rindu tetap membawaku ke langit biru.


Condro

***

Tulisan di atas ditulis di hari Minggu, 14 Maret 2010, ketika cuaca Bremen masih mendung. Saat itu, aku sedang mengandung anak rohani, yang kuberi nama Thesiscab Masterindu Sinyalia. Segenap kegalauan kuterima dengan keikhlasan dan telah kupersembahkan kepada anak rohaniku yang tampangnya kaga cantik maupun ganteng, tapi lumayanlah ia telah lahir.

Tulisan tersebut juga menginspirasiku 9 hari yang lalu untuk membuat posting tentang Rilke di blog berbahasa Jerman milikku: Lösch mir die Augen aus. Setelah lebih dari tiga tahun berlalu, kubaca tulisanku lagi. Aku teringat bahwa perjuangan masih panjang. Akupun ingin hamil lagi. Kali ini aku ingin memiliki anak rohani yang lain. Semoga kali ini, ia ganteng atau cantik.



Oh, ya, hari ini hari Minggu dengan langit biru terang dan sedikit berawan. Tidak kelabu.
Walau berhenti sejenak di persimpangan, aku tahu Dharmaku akan membawaku ke mana.


Bremen, 9 Juni 2013

iscab.saptocondro