Rabu, 28 Januari 2015

Twitter dan Tissue Toilet

Aku suka dengan film seri "2 Broke Girls" [1], tentang dua wanita yang "broke" [2] dan menjadi kelas pekerja untuk menyambung hidup. Mereka berdua bernama Max Black dan Caroline Channing. Keduanya bekerja di warung makan milik Han. Di sana bekerja pula seorang bekas pemain musik yaitu Earl. Banyak kritik sosial yang muncul dalam film seri ini, dalam bentuk satire dan jokes yang sinis atau sarkastis. Sarkasme adalah hal yang membuatku jatuh cinta dengan Max Black, yang diperankan oleh Kat Dennings.

Max Black (Kat Dennings), "2 Broke Girls" from CBS 


Sesuai judul posting blog ini, pada satu episode, Earl berkata bahwa dulu dia mencatat ide-ide di tissue toilet, kini orang menggunakan Twitter. Kritik sosial yang menarik. Kebetulan aku termasuk orang yang menggunakan Twitter untuk mencatat ide. Lebih tepatnya aku menggunakan social media lain (Plurk, Path, dll) yang kemudian disambung ke Twitter. Aku dibesarkan di Indonesia yang tidak memiliki tradisi bersih diri menggunakan tissue toilet, tetapi dengan air dan sabun [3].

Tissue toilet dulu digunakan juga oleh Antonio Gramsci [4], ketika menulis teori-teori Marxisme ketika Gramsci dipenjara pada zaman Mussolini. Andai Gramsci bisa menulis di blog atau di Twitter, mungkin Marxisme Italia memiliki perkembangan berbeda dalam perlawanannya menghadapi  fasisme Mussolini dan Hitler.

Dalam kisah "V for Vendetta" [5], versi film [6], diceritakan bahwa Evey Hammond, membaca gulungan tissue toilet yang ditulis oleh Valerie Page. Dari gulungan tersebut, Valerie Page menceritakan dirinya seorang aktris film yang dipenjarakan lalu dihukum mati, oleh pemerintah yang fasis, karena Valerie lesbian. Evey Hammond mengalami simulasi penyiksaan dalam penjara sembari membaca gulungan tersebut. Oh, ya, Evey Hammond diperankan oleh Natalie Portman dalam film. Adegan ketika Evey mengalami simulasi penyiksaan mengingatkanku akan OSpek di ITB yang kualami. Jadi bagian ini yang paling berkesan dalam film.

Aku juga teringat dulu di ITB memiliki kawan yang membawa buku ide. Dia menulis ide-idenya di buku kecilnya kalau tiba-tiba inspirasi muncul. Ketika tidur, buku ide berada di sampingnya. Siapa tahu dia susah tidur atau tiba-tiba terbangun karena ide menghampirinya. Aku tidak mencontoh cara kawanku mencatat ide.

Aku mencatat ideku secara acak-acakan. Kadang di buku tulis. Kadang di kertas. Kadang di Twitter (via social media lainnya). Kadang di blog. Kadang di Excel. Kadang di file txt yang kutulis dengan notepad dan text editor lainnya. Kadang jadi coding singkat dalam bahasa C/C++ atau MATLAB. Karena catatanku tersebar dalam berbagai bentuk dan di mana-mana, aku suka pusing kalau harus mengingat-ingat. Akan tetapi, aku belum pernah mencatat ide di tissue toilet.

Jadi di manakah kamu biasanya mencatat ide?

***

[1] "Two Broke Girls", adalah serial TV dari CBS (fb; wiki: en,de,idimdb).
[2] "broke" biasanya diterjemahkan sebagai bangkrut. Namun dalam konteks ini, lebih tepat jika "broke" diartikan sebagai tidak punya banyak uang. Caroline Channing tiba-tiba "broke" karena kekayaan keluarganya disita oleh pengadilan karena ayahnya melakukan kejahatan finansial. Caroline kehilangan tempat tinggal dan akhirnya menumpang di apartemen Max. Sedangkan Max Black "broke" karena dia memang lahir dari kelas pekerja dan dia tak punya modal dan alat produksi. Max menyambung hidup dengan bekerja dan tinggal murah secara ilegal di suatu apartemen.
[3] Bersih diri = cebok
[4] Antonio Gramsci adalah seorang teoretikus Marxisme dari Italia (wiki: en,de,id; web marxist org).
[5] "V for Vendetta" (1982) adalah komik karangan Alan Moore dan David Lloyd, tentang seorang anarchist bertopeng "Guy Fawkes" bernama V yang melakukan revolusi melawan Pemerintah Inggris yang fasis (wiki: en,de,id).
[6] "V for Vendetta" (2005) adalah film adaptasi komik [4] di atas, disutradarai oleh James McTeigue dan ditulis oleh Wachowski bersaudara (wiki: en,de,idimdb).

Semoga ide-idemu tidak terguyur bersama tissue toilet, atau tertimbun oleh kicauan Twitter yang tak bermakna.


Oldenburg, 28 Januari 2015

iscab.saptocondro

Selasa, 08 Juli 2014

Berbagi

Dalam cerita Mahabharata, dikenal sosok Karna yang senang berbagi. Dia akan rela memberikan apa pun yang diminta, kepada siapa pun yang meminta. Aku juga senang berbagi. Masalahnya adalah belum tentu orang lain mau kubagikan hal-hal yang kumiliki. Hahaha.

Aku senang berbagi kebahagiaan, tetapi aku tidak punya seseorang tempat aku membagi ini. Kalau berbagi kesedihan, sih, lebih mudah. Tapi aku tidak suka berbagi kesedihan sebagaimana aku malas mendengar cerita sedih orang lain. Aku lebih tertarik dengan cerita yang membangun optimisme.

Salah satu perilaku berbagi yang ada padaku adalah berbagi informasi. Aku senang berbagi informasi, di milis, di Facebook, di blog, dan di media sosial lainnya. Tingkah laku ini adalah kelebihan sekaligus kekuranganku. Beberapa kawan sudah meng-unfriend diriku karena habitus ini. Mereka tak sanggup menghadapi banjir di timeline Facebook mereka akibat hobiku yang senang berbagi ini. Aku juga menahan diri untuk tidak berbagi terlalu banyak di Timeline Facebook milikku karena aku menyayangi kawan-kawan Facebookku, yang berjumlah lebih dari 2000 (dan di atas 90% pernah kutemui langsung di dunia nyata).

Kawan-kawan Facebook yang kumiliki terdiri dari berbagai macam agama, aliran politik, hobi, kebiasaan, dll. Ada yang religius dan ada yang atheis. Ada yang berpolitik dengan aliran kiri dan kanan. Kadang aku membagi informasi secara provokatif tentang agama, yang bisa saja menyinggung kawan-kawan yang religius. Kadang aku membagi informasi secara provokatif tentang organisasi yang sering mengganggu kegiatan ibadah agama orang lain, yang tentu saja akan menyinggung kawan-kawan yang mendukung organisasi ini. Kadang aku membagi informasi tentang sains yang "mungkin" memiliki dampak terhadap interpretasi terhadap Kitab Suci agama, yang bisa saja menyinggung apa yang sudah dipercayai kawan-kawanku dalam hidup kesehariannya.

Aku bersyukur karena memiliki kawan-kawan Facebook yang belum meng-unfriend diriku yang kadang terlalu berlebihan dalam berbagi informasi. Aku menyadari bahwa berteman di dunia nyata lebih baik daripada di dunia maya. Mereka yang meng-unfriend diriku toh bisa kutemui dengan asyik-asyik aja di dunia nyata dan kami pun bisa bercerita banyak karena kami tidak tahu isi Facebook masing-masing. Ketidaktahuan bisa menjadi bahan obrolan. Kadang kurang asyik, kalau ketemu untuk membahas topik yang udah ada di Facebook. Tambahan lagi, aku bersyukur karena aku tidak di-unfriend, tetapi hanya di -"hide timeline" aja.

Kini di Indonesia, sedang ada pilpres. Karena calon Presiden cuma dua, maka konstelasinya kawan-kawan Facebook milikku kira-kira seperti ini:

  • Pendukung Prabowo, baik yang profesional maupun sekedar relawan/bobotoh
  • Pendukung Jokowi, baik yang profesional maupun sekedar relawan/bobotoh
  • Pembenci Prabowo
  • Pembenci Jokowi
  • Pembenci tokoh dan/atau organisasi pendukung Prabowo
  • Pembenci tokoh dan/atau organisasi pendukung Jokowi
  • Golput
  • Troll

Aku bersyukur punya kawan-kawan yang beragam. Tapi orang kadang memandang dengan cara dualisme: semua harus biner, ini lawan itu, baik lawan jahat, "are you with or against us?", dll. Jadinya mereka yang menyuarakan keberagaman, akhirnya jatuh juga kepada pandangan bahwa jagad maya hanya jadi dua ragam: "pilihan gue" atau "lawan gue".

Pada masa pilpres ini, aku memperoleh informasi dari segala penjuru. Ada informasi mutu berlian dan ada mutu sampah. Sebagian informasi perlu dianalisis secara kritis dan sebagian lagi sudah tersaji oleh media pers resmi yang tentu perlu saja tetap dibaca secara kritis. Ini karena wartawan masa kini lebih senang memberitakan dengan cepat tetapi suka lupa dengan keakuratan berita. Berdasarkan pekerjaanku sebagai peneliti, ketika berurusan dengan informasi dan entropi, selalu ada optimasi antara kecepatan dan akurasi,

Aku selalu memiliki keinginan untuk berbagi. Namun kali ini, aku menahan keinginan untuk berbagi sebagaimana seorang menahan diri dalam masa puasa. Walau ada beberapa informasi yang bisa kubagi, tetapi dalam masa pilpres ini, aku tidak membaginya. Alasannya bermacam-macam. Kasihan dengan kawan yang kena banjir informasi yang tak mereka butuhkan. Aku juga membatasi laju unfriend pada diriku. Masa sih, hanya demi keinginanku untuk berbagi informasi, aku kehilangan kawan?

Selain itu, aku juga harus menghormati kawan-kawan yang memiliki pandangan sosial politik yang berbeda denganku. Aku tidak mungkin menjelek-jelekkan tokoh panutan kawan-kawanku karena tokoh ini adalah harapan bagi kawan-kawanku, walau bukan harapanku. Aku memilih hal-hal yang lucu, kreatif atau membangkitkan optimisme saja yang kubagikan di Facebook Timeline. Memang kadang untuk hal yang kuperjuangkan, seperti penghormatan terhadap hak asasi manusia dan perlawanan terhadap fasisme, aku kadang menggunakan gambar dan cerita yang "keras" atau "tajam".

Ketika aku memandang foto-foto kawanku di Facebook, mereka adalah suami atau istri yang saling menyayangi atau orang tua yang menyayangi anak-anaknya. Hal ini yang membuatku menahan diri untuk tidak berbagi informasi secara berlebihan dan provokatif di Facebook. Aku tidak ingin mengotori timeline mereka dengan kacaunya duniaku, yang dekat dengan wacana etis dalam dunia sains, sosial, politik, lingkungan hidup, spiritualitas, dan keagamaan. Sometimes ignorance is bliss. Namun aku memilih tetap kritis. Dan kini aku menahan diri supaya kekritisanku tidak mengganggu hidup orang lain yang ingin nyaman ber-Facebook, apalagi bersama keluarga masing-masing.

Aku pun harus serius dalam Dharmaku saat ini, yaitu jadi peneliti yang dibayar untuk meneliti Brain-Computer Interface. Aku harus lebih banyak berbagi sesuai bidangku ini. Aku juga harus merencanakan dengan baik, agar yang kubagikan berada di ruang yang tepat, yaitu jurnal internasional yang ilmiah dengan peer review. Darah Juang!

Akhir kata, aku berterimakasih karena memiliki kawan-kawan yang masih menerima diriku apa adanya. Baik yang di dunia nyata maupun di Facebook. Baik yang masih friend dan yang sudah unfriend. Baik yang "hide timeline" maupun yang membaca posting-ku di Facebook. Kalian semua adalah yang membuatku merasa kaya. Aku juga memohon maaf atas semua informasi tak berguna yang kubagi selama ini di Facebook. Semoga kaga kapok jadi kawanku.


Bremen, 7 Juli 2014

iscab.saptocondro

Jumat, 09 Mei 2014

Membuat smartphone cacat

Sudah hampir 3 bulan, aku membuat smartphone milikku cacat. Kecerdasannya kukurangi secara sengaja. Sebelumnya, ada beberapa aplikasi jejaring sosial (online social network) di smartphone. Kini semua kuhabisi, kecuali Xing dan LinkedIn. Aku mengakses jejaring sosial di desktop saja. Kalaupun di smartphone, aku menggunakan browser dan harus melewati banyak login dengan segenap kerumitannya.

Aku mengenal perangkat genggam pertama kali ketika ia hanya memiliki kemampuan telpon dan texting SMS. Aku merasa hal ini cukup untuk berkomunikasi via perangkat genggam. Aku tidak butuh getar-getar dalam celana karena kedatangan tempelan foto Pinterest, "mention" Twitter dan Instagram dari orang yang kukenal maupun tidak, kabar terbaru dari kawan Path, dll. Aku puas dengan kemampuan telpon dan texting sederhana. Aku pertahankan aplikasi buat nelpon: telpon bernomor, Skype, Viber, Hangouts, dan Line. Aku pertahankan aplikasi texting: SMS, Whatsapp, dan Telegram.

Sejak "social media shutdown" ini, hidupku lebih mudah dan sederhana. Aku bisa menikmati mentari dan pepohonan yang menari bersama hembusan angin. Aku juga bisa menikmati bulan dan bintang yang tersipu malu di balik tarian gumpalan awan. Aku bisa mengagumi lampu kota di pinggir sungai setiap kulewati jembatan. Aku juga bisa membangun kontak mata dengan orang-orang yang kutemui di jalan, di toko, dan dalam angkutan umum. Aku bisa melihat senyum nyata manusia-manusia di sekelilingku.



***

Aku teringat masa remajaku yang tanpa perangkat genggam. Aku bisa janjian sama kawan-kawanku ke tempat makan, ke bioskop, ke acara api unggun, ke acara piknik, dll tanpa perangkat genggam. Tidak ada telpon panggilan maupun pesan teks "Di mana lu?" atau "Udah sampai di mana lu?". Akan tetapi kami pun bisa menikmati acara bersama.

Aku tidak akan membiarkan kemanusiaanku dibuat cacat oleh teknologi. Aku akan membuktikan kepada dunia bahwa "smartphone create dumb people" itu tidak berlaku bagi diriku. Aku juga tidak mau merasakan "alone together", ketika bertemu kawan-kawan hanya untuk duduk menunduk memandang perangkat genggam. Daripada kemanusiaanku dibuat cacat oleh smartphone, maka kubuat smartphone cacat saja.

Leherku sudah terlalu pegal untuk menunduk di bawah kekuasaan smartphone. Kini saatnya merebut kekuasaan itu. Leherku tidak layak untuk menunduk gara-gara smartphone. Leherku diciptakan Tuhan untuk menengadah ke atas memandang bintang-bintang di langit, karena aku tercipta dari bintang. We are all created from stars! Saatnya revolusi! Kerinduan manusia akan bintang revolusi sudah menggelora dalam jiwaku.

Kini aku membersihkan jiwaku dari kebisingan dunia maya. Apalagi tahun ini, kawan-kawanku sedang terkena eforia Jokowi versus Prabowo. Tidak ada ide besar yang dibicarakan dalam dunia online. Yang ada hanya obrolan bocah-bocah fans club selebriti politik. Kebisingan yang mirip ketika aku masih kanak-kanak, "mainan gue lebih keren daripada mainan lu". Kebisingan ini baru sekadar obrolan "my horse is bigger than your horse" dan sama sekali tidak memberi makna yang berarti bagi hidupku.

Jika hidup bisa dipermudah, mengapa harus dipersulit oleh smartphone?
Aku pun kembali kepada pekerjaanku, Dharmaku, tanpa gangguan smartphone beserta kebisingan dunia maya yang menyertainya. Aku pun bisa jujur pada diriku sendiri yang hidup dalam kesunyian dan kesendirian. Hanya segelintir kawan dekat dan keluargaku yang mengontakku. Sampai jumpa lagi di posting berikutnya!

***

Bacaan lain:
Selamat membaca.


Oldenburg, 9 Mei 2014

iscab.saptocondro

Kamis, 27 Februari 2014

Percaya

Aku selalu memiliki masalah dengan percaya diri. Suatu hari aku bertemu kawanku untuk meminta nasihat kepadanya. Dia berkata bahwa aku harus percaya kepada Tuhan. Aku pun bingung apakah ini jawaban atau solusi dari masalahku.

Setelah kurenungkan dalam-dalam, siang dan malam, aku tersadar bahwa kawanku mungkin benar. Jadi aku harus percaya bahwa diriku adalah Tuhan. Jadi aku bisa percaya diri sekaligus percaya Tuhan.


Oldenburg, 27 Februari 2014

iscab.saptocondro

Sabtu, 24 Agustus 2013

Kicauan Republik Kelamin Mencari Perawan

Pada suatu hari, burung kuntul berkicau di Republik Kelamin. Ia berkicau tentang suatu test keperawanan. Karena burung kuntul merasa hal-hal kelamin lebih penting daripada kasus korupsi migas hasil ngecrot dari dalam bumi. Hal-hal kelamin ini juga lebih penting daripada mata uang Republik yang nilainya menurun bila dibandingkan dollar (dan mata uang Eropa).

Di Republik ini, Kelamin über Alles, seperti ramalan The PanasDalam. Selain meramal band ini juga bercerita tentang Cita-cita Republik Kelamin, dengan semboyan "Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Di mana ada kemaluan, di sana banyak persoalan".

OK, semboyan The PanasDalam sesungguhnya adalah "Argumentum in absurdum". Jadi Republik Kelamin ini betul-betul se-absurd tulisan ini. Dalam jurnalisme, kita kenal 5W+1H (what, where, when, who, why, how). Apa itu perawan? Apa itu test keperawanan? Di mana dan kapan perawan? Siapa perawan? Mengapa test keperawanan? Bagaimana test keperawanan? Akankah pertanyaan tersebut dijawab dengan absurd, mari baca posting ini lebih lanjut.

***

Artikel KOMPAS menyebutkan test keperawanan untuk masuk sekolah perlu dijadikan undang-undang oleh Zainal Alim, Sekretaris MUI Pamekasan.
Zainal mencari perawan

Jadi menurut Zainal, perlu ada sekolah untuk perawan dan sekolah lain untuk bukan perawan. Jadi perlu ada diskriminasi hak memperoleh pendidikan antara yang perawan dan yang bukan. Hal ini sebetulnya melanggar Pancasila sila ke-3 dan ke-5, UUD pasal  31 ayat 1, serta UU Sistem Pendidikan Nasional 2003.

Zainal juga mengasumsikan bahwa ada ahli keperawanan. Aku menduga Zainal dulu pernah masuk kuliah kedokteran, lalu mengambil spesialisasi di bidang kandungan, sistem reproduksi, ginekologi, dan semiripnya. Sehingga ia tahu bahwa dalam kedokteran, ada ahli keperawanan. Ia mengasumsikan bahwa ahli keperawanan tahu perbedaan antara deformasi selaput dara setelah mengalami hubungan seks, setelah kecelakaan, dan setelah olahraga.

***

Menurut Ayu Utami di Deutsche Welle, test keperawanan itu penghinaan martabat manusia.
Standar selaput dara yang perawan

Menurut Ayu Utami, test keperawanan berdasarkan selaput dara itu absurd. Secara teknis, harus ada standar selaput dara yang universal untuk menentukan bentuk ini perawan dan bentuk itu bukan. Aku jadi teringat era fasisme Hitler tahun 1930-an hingga 1940-an, ada suatu standar yang ini Jerman dan yang itu bukan, yang ini Yahudi dan yang itu bukan. Yang Jerman asli dapat akses pendidikan lebih dari yang bukan. Yang bukan Jerman asli, kadang dihabisi. Yang Yahudi juga dihabisi. Standar selaput dara menimbulkan fasisme perawan.

Selain itu, selaput dara bisa dioperasi pemudaan. Jadi wanita yang sudah berkali-kali berhubungan seks dengan banyak pria maupun berbagai mainan, bisa kembali memiliki selaput dara baru. Dengan asumsi perawan itu mereka yang memiliki selaput dara indah sesuai standar, wanita seperti ini bisa kembali "perawan". Aku pun ingin bertanya kepada Dewi Persik, gimana caranya operasi ini dan ingin melihat dengan mata sendiri bagaimana hasilnya.



***

Di Jurnal Perempuan, Mariana Aminudin berpendapat bahwa tes keperawanan itu kebodohan yang mempermalukan perempuan. Pada artikel tersebut, test keperawanan dilakukan dengan cara memasukkan dua jari ke dalam vagina perempuan. Aturannya cuma satu “Kalau jari saya mentok berarti masih perawan”.

Mitos selaput dara

Jika standar test keperawanan itu berdasarkan mitos, sekolah menjadi tidak lagi mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat UUD 1945. Metode colok 2 jari ini, juga bisa saja bersifat traumatis bagi perempuan. Siswi yang masih remaja harus deg-degan berbaris menuju suatu ruangan. Ia dipaksa oleh negara untuk mengangkang kemudian alat pribadinya dilihat orang asing, dipegang, dan dibuka dengan jari. Saat itu, vaginanya bukan miliknya lagi. Vaginanya dipegang dan ditusuk dengan jari dengan paksaan negara.

Sesungguhnya wanita yang diperkosa itu terjadi ketika tubuhnya direnggut paksa bukan atas kehendaknya sendiri. Dalam pemerkosaan, wanita kehilangan kontrol atas tubuhnya. Tubuhnya menjadi milik pemerkosanya. Dalam test keperawanan oleh negara, wanita pun merasakan kehilangan yang sama atas alat genitalnya. Tubuh jadi milik negara. Negara berhak mengobok-obok vaginanya tanpa peduli apa yang diinginkan perempuan yang memiliki vagina.

Test keperawanan jadi aturan hukum?

***

Adakah test keperawanan yang tidak perlu mengobok-obok vagina?

Seperti yang diceritakan Om Anton, dulu ada test keperawanan menurut Soekarno. Test ini berhubungan dengan simetri pentil payudara.

Test keperawanan seperti di atas juga sebetulnya mitos. Penjelasan rasionalnya, pentil yang di bawah garis mungkin terjadi karena wanita tersebut telah mengalami fase hamil dan kemudian menyusui. Biasanya wanita hamil itu tidak perawan, di zaman Soekarno. Zaman sekarang, ada inseminasi buatan, jadinya wanita bisa saja hamil tanpa berhubungan seks. Metode Soekarno tersebut juga gagal diterapkan di masa kini, karena penemuan push-up bra.

Pesanku tentang push-up bra adalah "Wanita yang percaya diri adalah wanita yang menonjolkan kelebihannya, bukan melebihkan tonjolannya."

***

Bukan hanya Soekarno yang mencoba membuat teori keperawanan tanpa mengobok-obok vagina. Males Banget dot com juga mencoba membuat test keperawanan berdasarkan kuis. Menurut Test Keperawanan MDBC ini, tidak bisa kuketahui apakah aku perawan atau tidak. Semoga hasil test ini tidak ada hubungannya dengan bencana toilet yang kualami waktu itu.

***

Kupikir-pikir isu keperawanan di Republik Kelamin ini hanyalah suatu bentuk "escape from reality" alias pengalihan isu dari kenyataan adanya kasus korupsi Migas yang mungkin melibatkan partai penguasa dan adanya penurunan nilai mata uang yang menunjukkan gejala awal krisis ekonomi.


***
Mari kita dendangkan kicauan absurd Republik Kelamin. 
Tiada yang lebih logis daripada sarkasme.












***

Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.
Di mana ada kemaluan, di sana banyak persoalan.


***

Bremen, 23 Agustus 2013

iscab.saptocondro

Disclaimer:
Tulisan "Republik Kelamin Mencari Perawan" ini tidak memiliki hubungan dengan acara "Indonesia Mencari Bakat"

Senin, 15 Juli 2013

Empat tahun telah berlalu

Empat tahun yang lalu, aku dihadapkan pada suatu kenyataan yang membuatku merenungkan tujuan hidupku. Aku merenungkan mengenai untuk apa aku hidup, di mana rumahku, menjadi apa aku ini, ke mana aku melangkah, dan segenap pertanyaan tentang makna hidup dan jati diri. Tahun ini, aku berada di persimpangan lagi karena dihadapkan kenyataan lain yang membawaku kepada perenungan yang sama.

Tahun lalu, aku pergi ke Indonesia, mudik menemui ayah dan bunda. Aku merasa bahwa aku harus kembali ke akar, untuk menemukan jati diriku, dari mana aku berasal. Aku ingin mendapatkan suatu jawaban masihkah Bandung rumahku. Banyak sekali perubahan selama 6 atau 7 tahun meninggalkan Bandung. Rumahku berbeda (bangunan dan suasana). Kawan-kawanku memiliki dinamika sosial yang berbeda. Di Bandung, aku pun tak menemukan jawaban, di mana rumahku. Yang tersisa hanyalah suatu kerinduan menemui keluargaku dan teman-temanku, tempatku bertumbuh.

Tahun ini, aku kembali ke Bremen. Kota ini seperti rumahku yang lain, setelah kutinggalkan sejenak. Pada mulanya aku gembira bisa bertemu kawan-kawan lama di Bremen. Bahkan beberapa orang yang telah meninggalkan kota ini, kembali lagi untuk melanjutkan studi doktoral. Sesaat aku merasa bahwa aku memiliki suatu takdir di kota ini. Walau dinamika sosialnya berbeda dengan orang-orang baru, untuk sesaat aku merasa Bremen bisa menjadi rumahku.

Akan tetapi, pada suatu hari di musim semi, aku membuka apartemenku di Bremen. Ada perasaan aneh melingkupi diriku. Ada yang salah dengan rumahku. Suatu firasat mengatakan bahwa kota ini bukan rumahku. Aku merasakan bahwa aku harus bergerak dan berkelana. Di kantor di Bremen, aku pun merasakan ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang mengatakan bahwa pekerjaan di sana bukan untukku dan aku bukan menjadi diriku. Tak berapa lama kemudian, aku dinyatakan pada kenyataan yang mengonfirmasikan intuisiku.

Kini aku dihadapkan suatu pertanyaan eksistensialis yang sama dengan empat tahun lalu. Apakah aku berada di jalan hidup yang tepat untukku? Di saat itu, aku kehilangan sebagian jati diriku, yang mendefinisikan tujuan hidupku dalam karir dan cinta. Kini aku pun merasakan kehilangan yang sama. Aku pun harus kembali menata hidupku dan menemukan "meine Bestimmung" (apa yah terjemahan Bahasa Indonesianya?).

Aku mulai mempertanyakan siapakah kawanku, apakah aku memiliki sahabat, apa makna jejaring sosial bagi diriku, apa makna diriku bagi kawan, keluarga dan jejaring sosial yang kumiliki. Aku melihat apa saja yang dikerjakan kawan-kawan di Indonesia, di Jerman, terutama Bremen, dll. Apa pilihan karir mereka? Bagaimana mereka berkeluarga di tempat masing-masing? Kemudian kubandingkan dengan diriku, dengan mereka. Bagaimana jika aku hidup, bekerja dan bekeluarga, di tempat mereka? Jakarta? Bandung? Bremen? Singapura? Australia? Belanda? Swiss? USA?

Aku pun bertanya kepada kawan-kawan yang dekat di hatiku. Bagaimana awalnya mereka memilih pilihan karir mereka, baik industri maupun akademesi. Bagaimana pengalaman memilih bidang studi dan topik penelitian. Kini aku mengerti apa makna jejaring sosial yang kumiliki. Ternyata mereka memberiku cermin. Aku belajar mengenai apa saja yang bisa aku kerjakan, apa saja pilihan karir yang bisa kupilih, dll. Aku merasa mendapatkan secercah cahaya inspirasi, bahwa aku bisa bekerja di mana saja namun aku harus siap berkelana lagi.

Yah, aku harus bergerak. Aku harus mengembara. Rumahku adalah planet bumi. Aku tidak boleh terikat pada satu tempat dan satu jejaring sosial dengan ikatan geografis. Aku belum tahu ke mana, namun aku meraih segenap kesempatan untuk menemukan makna hidupku.

Empat tahun telah berlalu. Saat itu, adalah satu hari di mana kekuatiran lenyap setelah setahun sebelumnya aku hidup terombang-ambing. Hari itu jiwaku seperti dibersihkan dari segenap emosi negatif. Perasaanku seperti suatu cangkir berisi air kotor, kemudian dalam sehari isi cangkir tersebut dibuang dan dikosongkan. Cangkir kosong tersebut siap diisi dengan sesuatu yang baru. Perasaanku kini mirip empat tahun lalu, aku merasakan kehampaan yang sama bagai cangkir kosong. Aku siap menyambut suatu pembaharuan dalam hidupku.

Hari ini, aku memperingati kehampaan ini. Aku tak tahu akan ke mana. Namun aku merasa dalam waktu dekat akan ada suatu perubahan besar dalam hidupku yang memberi jawaban akan pertanyaan makna hidupku. Diriku diliputi perasaan penuh rasa syukur atas segenap pengalaman hidup dan jejaring sosial di berbagai kota di Indonesia, Jerman, dll. Aku yakin pengalaman dan kawan baru akan kudapatkan dalam langkah selanjutnya dalam perjalanan hidupku. Jiwaku merasa dipenuhi dorongan untuk bergerak menyambut setiap kesempatan bagaikan menghadapi suatu hadiah kejutan (surprise) dari Semesta. Surprise me, oh, Universe!


Empat tahun berlalu, dalam suatu kehampaan jiwa dan kepenuhan syukur, aku pun bertanya akan ke mana. Lagu Diana Ross "Do you know where are you going to?" pun menemaniku dalam perenungan ini.




Bremen, 15 Juli 2013

iscab.saptocondro

Selasa, 09 Juli 2013

Topik menarik blogku, 9 Juli 2013

Hari ini, aku melihat topik apa saja yang dibaca orang dari blog iscab milikku. Gambar berikut menjelaskan kategori dan tag apa saja yang menarik dari blogku.


Topik populer, 9 Juli 2013


Ternyata orang lebih berminat membaca tulisanku yang serius. Aku memang tidak berbakat untuk melucu. Tulisanku yang absurd tidak menarik untuk dibaca. Akan tetapi banyak yang mencari kuntilanak merah di Bayern dengan bernyanyi lagu lingsir wengi. Pembaca sedang tertarik tulisanku tentang wisuda di ITB, mungkin karena akhir minggu ini ada acara itu di sana. Topik tentang cinta termasuk hal yang dibaca orang dari blogku. Aku bingung kenapa tulisanku tentang Bremen tidak semenarik Bayern.

Aku pun merenung. Sepertinya supaya tulisanku menarik, aku harus menulis hal serius, contohnya politik dan filsafat. Kemudian ada tulisan selingan tentang cinta. Tentu saja, bukan tentang bercinta dengan kuntilanak merah, walaupun itu topik populer sementara ini. Aku pun teringat petuah, "Rajin-rajinlah menulis karena writing tresno jalaran soko kulino".

Bremen, 9 Juli 2013

iscab.saptocondro