Senin, 28 Desember 2009

Kenangan Pempek Palembang

Pempek Palembang selalu menjadi makanan favoritku. Banyak sekali kenanganku bersama makanan ini. Dari aku masih SD hingga aku lulus kuliah di Bandung.

***

Masa-masa SD...

Sewaktu masih SD, aku memiliki tetangga sebelah yang keturunan Palembang dan tetangga depan rumah yang Palembang asli. Tetangga sebelahku adalah adik-kakak: Ferdi dan Yuli. Kami bertetangga sejak TK hingga kami semua usai kuliah. Ibu mereka berdua bisa membuat Pempek Kapal Selam, artinya ilmu membuat adonan Pempek sudah level tinggi. Kaga tahu sekarang anak-anaknya. (Sorry, Fer dan Yul!). Teman Turki saya pernah bilang "tidak ada makanan selezat buatan mama". Dan temanku benar! Pempek Palembang buatan tetangga sebelah rasanya enak, cukonya betul-betul pedas asli ala Sumatera Selatan. Aku sering mendapat Pempek Palembang mereka pada masa-masa tertentu, misalnya Lebaran, dll.

Tetangga depan rumah juga keluarga Palembang. Mereka membuat Pempek Palembang yang sesuai rasa asli Sumatera Selatan. Mereka membuka warung kecil. Aku sering membeli pempek buatan mereka, kira-kira seminggu atau dua minggu sekali. Kalau tak salah dan tak lupa, ada 4 anak tetangga depan rumahku: 2 cowo dan 2 cewe. Aku cuma ingat 1 cowo, Iwan dan 1 cewe, Pipit. Dua lagi kulupa. Aku ingat Pipit karena dia seumuranku dan karena kepadanya kubeli Pempek. Biasanya aku beli Pempek Kapal Selam. Mereka sekeluarga pindah ke kota lain ketika aku menginjak SMP.

Ferdi, Yuli, dan Pipit kira-kira berumur tak beda jauh denganku. Ferdi setahun lebih muda dariku. Yang lain sama denganku. Kami teman sepermainan. Masa-masa SD adalah masa-masa indah buat kami. Jaman kami SD dulu, kami sering naik sepeda bareng, kejar-kejaran, lompat tinggi, masak-masakan, dan semua permainan anak-anak. Kami mengeksplorasi dunia kami di sawah dekat kompleks, menangkap ikan di selokan, mencari kecebong, dll.

Aku ingat ketika ibuku pergi arisan RT. Ketika arisan ada sumbangan RT. Nampaknya waktu itu, ibuku bilang kalau beliau tak punya uang banyak kepada ibu-ibu tetangga satu RT. Jadinya sumbangannya dikit. Aku membeli Pempek Palembang kepada Pipit. Sayangnya, Pipit tak punya kembalian. Dengan polos dan lincah, dia pergi ke tempat arisan untuk berurusan dengan ibuku tentang uang kembalian. Ibuku jadi terlihat mengeluarkan uang banyak untuk membeli Pempek. Hahaha. Ibuku jadi malu karena "berbohong" di depan para tetangga. Kami, anak kecil, memang polos. Dunia kami seperti hutan rimba yang tak dipagari oleh kebohongan, entah bohong putih maupun bohong gelap.

Dunia kami terpisah ketika kami menginjak SMP. Pipit pindah rumah. Aku sekolah di SMP swasta sekitar ujung bawah Dago. Ferdi dan Yuli sekolah SMP negeri di sekitar Kebon Kelapa. Walau tetangga sebelah, kami sudah jarang bertemu lagi. Saya memiliki grup teman baru di SMP, begitu pula Ferdi dan Yuli. Begitu pula saat SMA, kami terpisah oleh kesibukan dan beda sekolah. Lalu kami kuliah. Saya kuliah di ITB, Ferdi kuliah di Politeknik Bandung (lalu ITS, Surabaya), dan Yuli di Unpad Jatinangor.

Setiap kali makan Pempek Palembang, aku terkenang lelucon sotoy Ferdi, senyuman Yuli, mata indah Pipit, dan tentu saja keramahan orang tua mereka. Pedasnya Pempek Palembang yang menusuk lidah, menyegarkan ingatanku akan sebagian masa kecilku yang indah ketika bersama mereka.

Ferdi dan Yuli bisa kukontak di Facebook. Sedangkan Pipit tidak bisa karena aku tak tahu nama panjangnya. Kenangan bersama Pipit terhampar jauh dari ruang, waktu dan memoriku. Yang tak bisa kulupakan adalah mata indah Pipit (dan sisanya lupa, hehehe). Aku kangen Pipit. Mungkin suatu saat bisa bertemu. Seluruh makrokosmos dan mikrokosmos berkonspirasi mendukungku

***

Masa-masa SMP dan SMA...

Ada beberapa tukang Pempek "Palembang" dekat sekolahku. Pertama, di jalan Sultan Agung dan kedua, di pasar Gempol. Keduanya sih lebih tepat disebut Pempek Bandung karena cuko Pempek rasanya tidak asli Palembang.

Pempek di jalan Sultan Agung adalah pempek murahan karena dijual murah untuk anak sekolah (Aloy) dari gerobak dorong. Seperti biasa, kandungan aci lebih banyak daripada kandungan ikan. Cuko pempek manis dan tidak pedas. Kalau mau nambah pedas, bisa tambahkan sambel (yang diulek).

Pempek di pasar Gempol sedikit lebih mendingan rasanya daripada yang di Sultan Agung. Kandungan ikan sedikit lebih mendingan. Cuko pempek juga tidak pedas dan rasanya lebih mirip saos rujak: manis dan rasa pisang.

Biasanya aku makan Pempek pasar Gempol ketika aku dan teman-teman nongkrong di Jalan Gempol Kulon. Di situlah rumah Arief, temanku sejak TK (taman kanak-kanak). Biasanya anak nongkrong lainnya adalah Hendrick Kowo, David, See Kian, dan Sun Hong, teman-temanku sejak SMP. OK, kadang-kadang ada tambahan Andre Tobing, Tjin Wan, dan Artino, ketika aku menginjak SMA.

Setiap kali aku makan Pempek Palembang, yang cukonya manis dan tak pedas, kenangan manis bersama kawan-kawanku ini selalu teringat. Hidupku tidak akan seperti sekarang tanpa mereka. Merekalah yang menemaniku di masa sekolah menengah. Perjalananku menjadi dewasa tak lengkap tanpa mereka.

***

SMP adalah masa aku merangkak menuju kedewasaan.
SMA adalah masa aku berjalan menuju kedewasaan.
Kuliah (masa mahasiswa S1) adalah masa aku naik sepeda menuju kedewasaan.
Sepatu roda? Gua kaga bisa naik sepatu roda.

OK, kuliah S2 mungkin adalah masa aku naik kendaraan bermotor menuju kedewasaan.
Kuliah S3 nanti, adalah masa aku terbang menuju kedewasaan sempurna.

***

Masa kuliah S1...

Ketika kuliah S1, aku dikenalkan oleh David, tempat Pempek Palembang terkenal di Bandung. Tempatnya jalan Rama. Ada dua tempat Pempek Palembang di sana. Dua-duanya enak. Pempek ini asli Palembang. Ikannya terasa.

Biasanya bahannya kiriman dari Palembang dan termasuk "mass production". Namanya Pempek Pak Raden. Pada kardusnya, ada foto merk Pak Raden.

Cuko Pempek di tempat ini ada 2 macam. Yang pertama pedas asli Palembang dan yang kedua tidak pedas supaya disesuaikan dengan selera orang Bandung.

Pemilik tempat makan ini juga kayanya bukan orang Palembang. Aku belum nanya sih. Jadinya aku tak tahu.

Makan Pempek Palembang mengingatkanku makan bareng David setelah fitness bareng, renang bareng atau sekadar jalan-jalan. David ini adalah orang yang mendidikku untuk mencintai hidup sehat dengan olahraga. Akibat rajin olahraga ini, selain fisikku sehat, mentalku juga sehat sehingga bisa menyelesaikan tugas akhir S1 dengan pikiran yang cemerlang. Men sana in corpori sano, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.

OK, sesudah olahraga kemudian makan Pempek sebetulnya tidak sehat-sehat amat.

***

Margahayu Permai...

Setelah aku kuliah dan lulus, di kompleks perumahanku ada tukang Pempek dorong. Lumayanlah ada pengganti Pipit dan keluarganya yang biasa menjual Pempek. Seperti biasa, Pempek Bandung bukan asli Palembang rasanya kurang asoy. Aci lebih banyak daripada ikan. Tapi cuko Pempek lumayan terasa asli Palembang dengan rasa pedas yang dikurangi.

Makan Pempek Palembang bisa membuatku teringat masa-masa "Home Sweet Home" di Bandung, bersama Bapak dan Ibu. Saat itu juga ada binatang kesayangan yaitu nyamuk, hehehe, bukan maksudku 3 ekor anjing: Bambi, Waku, Boge.

Bambi adalah anjingku dari tahun 90 hingga aku kuliah. Aku lupa kapan matinya tetapi aku hadir saat pemakamannya. Waku dan Boge adalah anjingku dari tahun 95 hingga aku pergi ke Jerman. Mereka berdua mati ketika aku sedang di Jerman. Nyamuk adalah binatang yang sering bernyanyi ketika aku tidur sehingga aku terbangun lalu jadi olahraga singkat dengan raket listrik. Umur nyamuk biasanya seminggu doang. Lebih cepat mati ketika aku bermain raket listrik.

***

Masa kuliah S2...

Setelah April 2005, aku tidak pernah makan Pempek Palembang lagi. Aku meninggalkan Bandung dan bekerja "sebentar" di Semarang. Lalu April 2006, aku cabut ke Bremen, Jerman.

Selama meninggalkan Bandung itulah aku tidak makan Pempek Palembang. Hal ini membuatku merasa terkena kutukan Pempek Palembang. Seakan-akan seluruh alam semesta berkonspirasi membuatku terkutuk tidak bisa makan Pempek Palembang.

Aku menemukan cara untuk melawan kutukan ini. Caranya adalah menantang takdir dan mulai mengambil inisiatif. Kata Stephen Covey dalam buku "Seven Habits...", jadilah proaktif. Aku mengumpulkan beberapa kawan Perki Bremen untuk membuat Pempek Palembang secara gotong royong. Nama kegiatan itu adalah Workshop Pempek Palembang.

Alasanku berinisiatif dengan workshop ini berasal dari anjuran stress therapist bahwa meremas-remas adonan bisa menghilangkan stress. Aku senang bisa menggulung Pempek menjadi bentuk bola dan bentuk lenjer. Ternyata stress teredam bersama setiap remasan adonan dan dalam kebersamaan komunitas kecil pencinta makanan. Inilah yang namanya gotong royong ala Pancasila, seperti kata Bung Karno dulu. "Berdua lebih baik daripada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, ... Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan" (bdk Pengkhotbah 4:9-12). Kesepianku berkurang seiring dengan kebersamaan kami dalam memasak dan menyantap Pempek Palembang.

Workshop ini, selain membebaskanku dari kutukan Pempek Palembang, juga seiring dengan proposal thesis yang diterima oleh Profesor dan supervisor. Jadinya aku sekarang resmi menjadi mahasiswa thesis dengan tenggat waktu mengumpulkan 3 buku thesis 1 Juni 2010.

Cara membebaskan diri dari kesepian, stress, kejombloan, kesialan, dll adalah dengan mengambil inisiatif. Bahasa Inggrisnya adalah "taking control of yourself". Bahasa Jerman adalah "Hand haben". Aku sial terus tidak bisa makan Pempek dan ketika aku punya niat plus dibantu oleh jaringan kawan, maka jadilah aku bisa makan makanan yang kurindukan selama ini. Jangan berharap seluruh alam semesta berkonspirasi membantumu jika kamu tidak punya inisiatif.

Workshop Pempek Palembang ini mengingatkanku pada tahun 2002 ketika aku berjuang mengentaskan kejombloan. Waktu itu, Si Doi susah banget diajak nonton bareng. Aku kan suka nonton dan Si Doi kaga mau nonton berdua. Aku mengambil inisiatif mengajak anak-anak Mudika St. Martinus Bandung untuk menonton Matrix Reloaded bareng. Pengen mengajak satu orang doang, terpaksa buang pulsa untuk mengontak satu gerombolan. Ternyata kebersamaan ini asyik, jadinya si Doi kaga kagok kalau mengobrol. Kalau nonton berdua doang mungkin si Doi bakal banyak diam malu-malu.

***

Banyak sekali kenanganku yang muncul ketika aku makan Pempek Palembang. Bersama kawan masa kecil, orangtuaku, kawan sekolah, mantan, kawan organisasi, semua anjingku, dll. Aku juga teringat bahwa dengan makan Pempek Palembang, aku bangkit dari kematianku untuk menjadi Condro yang memiliki tujuan hidup, punya inisiatif, dan punya kontrol atas diriku sendiri dalam menghadapi segenap tantangan hidup: kesepian, stress, naik-turunnya rasa percaya diri, dll.

Bagiku Pempek Palembang ini bagaikan roti Tubuh Kristus dalam Sakramen Ekaristi yang membuatku mengenang kebangkitan manusia dari kematian.

Kapan, ya, aku makan Pempek Palembang lagi?

Minggu, 13 Desember 2009

My Personality Disorder, Desember 2009

This is taken in December 12th, 2009

DisorderRating
Paranoid Personality Disorder:Moderate
Schizoid Personality Disorder:Low
Schizotypal Personality Disorder:High
Antisocial Personality Disorder:Moderate
Borderline Personality Disorder:Moderate
Histrionic Personality Disorder:High
Narcissistic Personality Disorder:Moderate
Avoidant Personality Disorder:Moderate
Dependent Personality Disorder:Very High
Obsessive-Compulsive Disorder:High

-- Take the Personality Disorder Test --
-- Personality Disorder Info --





***


Disorder | Rating
Paranoid: Moderate
Schizoid: Low
Schizotypal: High
Antisocial: Moderate
Borderline: Moderate
Histrionic: High
Narcissistic: Moderate
Avoidant: Moderate
Dependent: Very High
Obsessive-Compulsive: High

URL of the test: http://www.4degreez.com/misc/personality_disorder_test.mv
URL for more info: http://www.4degreez.com/disorder/index.html

Sabtu, 05 Desember 2009

Pempek Lenjer

Ini adalah lagu Pempek Lenjer.
Pempek Lenjer adalah Pempek Palembang yang berbentuk lonjong.
Aku kangen Pempek Palembang.

***



***

Bulat besar panjang seperti lengan
kenyal rasanya
Masuk ke mulut, mata terpejam
Mertua lewat masih ditelan.

Selasa, 01 September 2009

Bye Bye Beautiful

Bye bye beautiful

It's not the tree that forsakes the flower
But the flower that forsakes the tree
Someday I'll learn to love these scars
Still fresh from the red-hot blade of your words

...How blind can you be, don't you see...
...that the gambler lost all he does not have...


Bye bye beautiful by Nightwish



***

Rabu, 25 Februari 2009

Tingkat ketenaranku v20090224


Tingkat ketenaranku menurut Google
(Selasa, 24 Februari 2009)


Setelah banyak menulis di milis-milis sejak tahun 1998, kemudian punya milis sendiri sejak tahun 2001, lalu bikin blogs di Friendster mulai tahun 2006, dilanjutkan blogs di Blogspot dan Wordpress tahun 2008, tentu saja namaku menjadi semakin tenar di Google. Blogs yang di Multiply tidak perlu dihitung.

Untuk menghitung ketenaran di Google, kita cukup mengetik kata-kata di Google Search Engine. Maksudnya tulis nama di Google lalu hitung ada berapa hasilnya. Tentu saja, ada kemungkinan terjadinya galat (error). Tapi penggunaan kata kunci atau "keyword" yang benar dari nama kita bisa mengurangi galat ini.


OK, hitung-hitungan dimulai:

- "ignatius sapto" = 119

- "sapto condro" = 118

- ignatius "sapto condro" A.B. = 112

- ignatius "sapto condro" = 109

- "ignatius sapto" condro = 109

- "ignatius sapto condro" A.B. = 87

- "ignatius sapto condro" = 84

- iscab condro = 77

- saptocondro = 60 (ini namaku di Google)

- ignatius "sapto condro" atmawanbisawarna = 53 (ini namaku di facebook)

- iscab saptocondro = 47

- "condro atmawan" = 39

- "sapto condro" atmawan = 38

- ignatius "sapto condro" atmawan = 38

- "atmawan bisawarna" = 37

- ignatius "sapto condro" atmawan bisawarna = 36

- iscabus = 32 (ini namaku di Yahoo)

- "ignatius sapto condro A.B." = 24

- "ignatius s. condro" A.B. = 8

- iscabul = 8 (ini namaku yang lain di Yahoo)


***


Bandingkan dengan beberapa kawan lain di Bremen:

- "mohamad mova" = 187

- "mohamad mova" afghani = 178

**

- "romi hardiyanto" = 136

**

- "teuku reiza" = 97

- "teuku reiza" yuanda = 89

- "teuku reiza yuanda" =76

- reiza ipon = 52

- teuku reiza ipon = 31

- "teuku reiza" ipon = 29

**

- "mohadig widha" = 37

- "mohadig widha" rousstia = 28

- mohadig "widha rousstia" = 24

- "widha rousstia" = 24

- "mohadig widha rousstia" = 18


***


Ternyata ketenaranku masih kalah jauh dengan Mbah Mova dan Kamerad Romi. Aku hanya beda tipis dengan DJ Ipon alias Teuku Reiza. Namun aku cukup jauh mengungguli Widha.

Minggu, 22 Februari 2009

A Friend for a Click or a Click for A Friend?


A Friend for a Click or a Click for a Friend?


Bagaimana cara orang berteman di jaman web 2.0 ini? Hanya bermodal klak-klik kamu bisa jadi teman. Lalu dengan klak-klik juga kamu kehilangan teman.

Pengalaman dengan social networking website dimulai dari Friendster. Aku diajak Arief Samuel Gunawan (Aip), kawan baikku sejak TK hingga kini. Lalu seorang kawan seperjuangan di kelompok muda-muda Katolik di paroki Santo Martinus, Bandung bernama Sandi Kusnadi mengajakku ikut Multiply.

Suatu hari, aku pergi merantau ke negeri seberang. Sesampainya di Jerman, negeri itu, aku diajak gabung StudiVZ oleh mantan teman kosku, Christiana Schuhen. StudiVZ cocok buat student di Jerman. Lalu aku mulai mengenal Facebook setelah diajak Muhammad Rully dan Marta Slawkoska. Sebetulnya aku tidak terlalu tertarik dengan Facebook sewaktu diajak gabung oleh Rully. Aku baru tertarik setelah diajak Marta, cewe Polandia yang cantik ini.

Setelah aku bergaul dengan beberapa orang Jerman, aku diajak Regine Wolter untuk ikut KT Community. Komunitas Katolik di dalam jaringan sosial maya.

Sekarang aku punya dua akun Friendster, satu untuk kawan yang kukenal dan satu lagi untuk "random adding". Sebetulnya tidak random banget, aku melihat profil cewe yang kelihatan cantik lalu aku add atau temannya cewe yang terlihat cantik lalu aku add. Jadi tidak acak, ada tujuannya.

Di StudiVZ, Facebook, Multiply, dan KT Community aku hanya punya satu akun masing-masing. Aku belum melihat gunanya memiliki dua akun. Dulu Friendster membatasi jumlah teman hanya 500, jadinya aku punya dua akun.

Aku hanya beraktivitas di taman maya Friendster dan Facebook. Di taman lain agak jarang. Sekarang aku berusaha menyamakan teman di Friendster dan Facebook. Maksudnya, aku sedang mengajak kawan-kawan di Friendster untuk punya akun di Facebook. Kenapa? KArena aku merasa Facebook lebih asyik buatku.

Di dunia web 2.0 ini, aku merasa ada hal yang sedikit mengganggu pikiranku. Walau tak kenal, kita bisa cukup klik Add Friend, lalu klik perintah berikutnya. Lalu kalau ingin kenal, kita cukup klik Approve atau Confirm. Kita berteman tanpa perlu jabat tangan hangat, tatapan mata ramah, suara manusia. Kita hanya berkenalan dengan kata-kata di website berisi profil yang tampak, kadang-kadang profilnya disembunyikan (hidden profile/ nicht sichtbar) dan kadang-kadang tidak ada foto. Kalau ada foto, ukuran wajahnya kecil sampai tak tahu muka orangnya, atau foto ramai-ramai sehingga tak tahu yang mana orangnya, atau foto yang bukan tampangnya, misalnya foto anjingnya, kucingnya, atau bintang film favoritnya, atau yang lain. Aku kadang-kadang merasa temanku ini hanyalah sebuah halaman depan layar monitor bukan manusia. Namun secara virtual, dia adalah manusia di balik layar itu.

Nah, baru-baru ini, aku mengecek Friendster dan facebook. Aku kecewa karena ada fungsi menekan tombol "X" untuk memutus hubungan pertemanan. Aku tidak dianggap teman lagi oleh beberapa orang, baik di Facebook maupun Friendster. Ternyata hanya bermodal "click", dan "you are no longer a friend of mine".

Di dunia nyata juga ada kejadian seperti itu. Kita berteman. Lalu entah karena lupa atau karena tiba-tiba ada konflik, hubungan pertemanan putus. Yah, namanya juga teman. Friends come and go.

Kadang-kadang pedih ditinggal teman. Lebih-lebih kita memiliki memori yang tak mudah dihapus seputar pertemanan itu. Manusia memiliki daya ingat berdasarkan hal-hal yang penting atau tidak penting. Semakin penting suatu hal, maka semakin berada di urutan atas yang dia ingat. Search engine di kepalanya akan selalu menaruh ingatan tersebut di urutan teratas. Semakin tidak penting suatu hal, maka semakin mudah dilupakan. Algoritmanya mirip sekilas dengan algoritma Google dalam mencari suatu hal.

Nah, aku merasa pedih ketika aku mengingat seorang kawan (apalagi kalau cantik) yang melupakanku. Akunya ingat, dianya lupa. Seperti bertepuk sebelah tangan. Well, aku juga pernah melupakan kawan. Tapi karena ingatanku bersifat fotografik dan audio, maka aku sulit melupakan wajah dan suara, namun mudah melupakan nama. Kecuali wajah satu orang yang berusaha kuingat. Andai wajahnya bisa kuingat, pasti langit akan terbuka, dunia akan berbeda, dan aku memperoleh pencerahan sejati.

Realitas manusia adalah pada bahasa. Yang sama dari dunia nyata dan jagad maya adalah cara berkenalan yang sopan harus menggunakan kata-kata. Kirim pesan "saya Condro, dulu kita kenal di...". Atau kalau berkenalan random, bisa kirim pesan "Kamu suka baca ..." sebelum kenalan dan ngajak berteman (maksudnya Add Friend). Ada cara berkenalan garing dan sok akrab, "you''re cute. kenalan dong". Lalu ada cara berkenalan tak sopan, yaitu Add friend doang, tanpa kata-kata. Beberapa orang yang kecanduan Friendster atau social networking website lainnya dan senang punya "teman" sebanyak-banyaknya walau tak kenal, memang kaga apa-apa kalau kita langsung tak sopan "Add Friend". Akan tetapi beberapa orang menggunakan akun Friendster, Facebook, dll untuk orang yang dia kenal saja. Orang seperti ini harus dihargai dan kirimlah pesan kepadanya dulu. Akan tetapi Friendster punya fasilitas "Messaging off" yang bikin tidak bisa kirim pesan, gimana dong? Yah, hargailah privasi orang. Mungkin dia tidak suka spam dan tidak suka orang sok akrab.

Aku senang dengan Facebook karena bisa Add Friend sekaligus kirim pesan. Jadi kita bisa tahu siapa dia ketika berkenalan. Berbeda dengan Friendster, pesan terpisah dengan add friend. Jadinya orang kaga menyambungkan antara pesan "saya Condro, kita kenal di..." dengan New Friend Request. Kalau masih kaga ingat, dalam hati aku berkata "Dasar brengsek". Aku paling benci dilupakan. Apalagi kalau yang melupakan itu cantik.

Kembali ke judul di atas, karena semakin lama aku menulis makin kaga nyambung, kamu bisa mengklik untuk dapat teman bahkan bisa jadi teman hidup seperti pengalaman beberapa teman. Syaratnya sih harus kopi darat dulu. Jadi teman dari dunia maya dibawa ke dunia nyata. Kamu bisa juga punya teman (di dunia nyata), buat diajak gabung di social networking website, cukup ketik emailnya lalu klik "invite" atau tombol lainnya yang mirip. What a funny world! Nampaknya berteman di dunia nyata saja tak cukup, sehingga harus dibawa juga ke dunia maya.

Aku sekarang berdoa supaya aku tak dilupakan kawan sebagaimana aku tak melupakan kawan.

Ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni sesama kami.

Kembali


Mengapa hari-hari ini aku dilanda kekalutan?
(ditulis 1 Agustus 2008)

Kemampuanku dalam hal merencanakan tiba-tiba rusak. Padahal aku ingin menyelesaikan studi. Aku harus melakukan ini-itu dalam waktu yang terbatas.

Lalu baru saja, aku mendengar dua lagu berhubungan dengan patah hati secara beurutan. Padahal lagu tersebut dihasilkan oleh suatu hal yang random alias acak. Lagu-lagu tersebut adalah "You're Beautiful" James Blunt dan "Monday Morning" Rialto.

Akhir-akhir ini aku lagi kalut. Setiap kali naik angkot (maksudnya Bus dan Strassenbahn) teringat mantan. Melihat profil cewe-cewe cantik di Friendster, tiba-tiba kok mukanya pada mirip mantan? Mau tidur, tiba-tiba selalu ada bayangan mantan. Padahal aku selalu berusaha ngelanjor cewe bule pirang mata biru atau cewe brunette tapi punya senyum manis kaya Anne Hathaway. Nah, kadang-kadang ada mantan di mimpi.

Sebetulnya dalam lubuk hati yang terdalam aku masih mendambakan mantanku. Tapi di negeri Jerman ini, aku berusaha untuk melupakan mantanku. Satu-satunya cara melupakan mantan adalah cari cewe baru. Akan tetapi karena keluguanku, banyak kesempatan menggaet cewe bule yang terlewat. Aku tak tahu kalau cewe nanya tempat minum kopi artinya dia ngajak minum kopi. Aku tak tahu kalau cewe nanya kapan makan di Mensa lagi artinya ngajak makan bareng. Aku tak tahu cara berkenalan dengan cewe bule di Party. Aku tak tahu "pick up line". Pokoknya aku goblog deh kalau urusan cewe.

Selain itu, kepercayaan diriku sudah disedot habis dengan kasus 2 bulan vs 2 tahun. Aku butuh 2 tahun lebih pedekate untuk bisa mengajak mantanku nonton bareng berdua tapi setelah putus, mantanku cuma butuh 2 bulan untuk nonton bareng dengan cowo lain.

Udah itu, kemarin bertemu kawanku yang menyuguhi film yang ogah kutonton. Ide film itu adalah wanita lebih mudah selingkuh daripada pria. Gila aja kalau aku sampai nonton film kaya gituan. Lagi mau tesis begini, pantang nonton film dengan tema pria patah hati, wanita selingkuh, dan kasih tak sampai. Bisa-bisa aku drop-out, bunuh diri di Jerman, jauh dari tanah kelahiran.

In competition in mating and dating, I am always a loser. Akan tetapi ada satu pengecualian, yaitu dengan mantanku yang kemarin.

Seorang teman wanita, jauh-jauh dari Korea mendatangiku ke Bremen untuk menasihatiku bahwa cinta harus diperjuangkan dan cinta akan menemukan jalannya. Aku mencintai mantanku dan ingin memilikinya. Dulu aku berjuang mendapatkan cintanya dengan darah dan air mata tanpa air mani selama 2 tahun lebih. Nasihat temanku ini memberi semangat sedikit supaya aku berjuang agar mantanku balik padaku.


Selalu ada dua pilihan untukku:

Pertama, suatu hari aku akan balik ke Indonesia. Lalu bertemu mantanku. Aku akan berjuang keras memperjuangkan cintanya kembali. Walau dia berkeras hati, aku harus berjuang keras meluluhkan hatinya.

Kedua, aku berusaha mencari pengganti di Jerman. Cuma masalahku satu, aku tak tahu cara berkenalan dengan cewe. Andai aja ada cewe yang "make the first move", gua pasti bakal langsung terima. Kalau gua harus bikin "first move", itu hanya terjadi kalau gua sedang jatuh cinta atau lagi kena cinta pada pandangan pertama. Keberanianku hanya muncul saat aku jatuh cinta.


Kawan-kawan, andai kalian percaya Tuhan itu ada, doakan aku supaya mantanku mau balik padaku.

Kalau Tuhan tidak mengabulkan doa kalian, mudah-mudahan doaku mendapatkan cewe bule yang bisa dibawa pulang ke Indonesia yang terkabul.

Udah, ah. Aku sudah cukup depresi dengan kisah cintaku. Studiku sudah terganggu dengan kekalutan pikiranku. Sekarang aku harus berusaha mencintai C++. Nampaknya aku harus belajar mencintai C++ sebelum belajar mencintai wanita. Menyelesaikan studi jauh lebih penting daripada memiliki wanita.

I have no pity


'I have no pity'


Itu kata-kata psikopat di film Red Dragon. Film ini adalah prequel dari Silence of the Lamb.

Sebagai psikopat, Red Dragon tidak punya moralitas, tidak punya rasa kasihan, dan tidak pernah ragu-ragu. Dia membunuh orang tanpa kasihan.

Sewaktu ada cewe buta yang berkata kepada Red Dragon, "Biasanya orang memandangku dengan iba, mereka mengasihaniku, tetapi kamu berbeda". Red Dragon berkata "I have no pity". Cewe buta tersebut tak mengerti maksudnya, tapi dia tertarik dengan Red Dragon.

Kata-kata "I have no pity" ini betul-betul selalu kuingat. Rasanya hidupku lebih tenang kalau aku jadi psikopat. Tidak perlu memikirkan moralitas. Tidak perlu punya rasa belas kasihan.

Kalau aku jadi pemimpin yang psikopat, aku akan naikkan harga BBM langsung mengikuti harga pasar, tanpa peduli dengan kesengsaraan rakyat. Jadi tidak ada keraguan sama sekali.

Ada yang demo? Tembak saja langsung. Aku kan psikopat.

Tapi aku tidak bodoh. Aku akan menggunakan intel untuk melakukan provokasi, melempar molotov, merusak sana-sini, lalu ketika terjadi eskalasi, mahasiswa-mahasiswa lugu yang demo bisa kutangkap dan kutuduh sebagai provokator. Aku tidak punya belas kasihan, aku kan psikopat.

Sebagai psikopat, aku akan mencapai tujuan dengan segala cara. Tanpa keraguan. Tanpa rasa kaga enak hati. Tanpa peduli ada orang lain yang jadi korban ulah kita. Semua orang yang menghalangi jalanku akan kuhabisi, tanpa perlu memikirkan moralitas.


Sayang sekali aku bukan psikopat.

Aku ingin sekali jadi psikopat. Aku ingin menumpulkan nuraniku. Aku ingin bisa jadi psikopat.

Sayang sekali aku terlalu ragu-ragu untuk jadi psikopat.

Sabtu, 21 Februari 2009

Tentang Friendster

Hal yang menyebalkan dari perkenalan di Friendster


Aku tuh paling sebal kalau ada orang tak dikenal minta di "add friends", tapi profilnya disembunyikan (hidden). Selain itu, tanpa basi-basi kirim pesan (Message) atau senyuman (Smile).

Aku kira kawan SMA atau SMP atau SD atau kursus, ternyata orang tak dikenal. Kalau kaga kenal, basa-basi dikit, alias berkenalan dulu, lah. Atau kalau tak pandai basa-basi, profilnya dibuka untuk umum. Jadi aku bisa menilai orang ini layak jadi teman atau tidak.

Aku tuh juga sebal kalau ada orang tak dikenal berani2nya pasang komentar (comment) di profilku. Hanya kawan yang boleh pasang komentar di profilku. Kalau pasang komentar di blogs kaga apa-apa.

Aku buka profilku untuk umum, karena aku pikir orang harus tahu aku apa adanya. Aku juga pasang komentar kawan-kawan yang kuanggap menggambarkan diriku.


Sorry, friends, kalau kuhapus komentar semacam

- "besok ke kampus"

- "jadi kapan?"

- "lagi di mana?"

- dll yang cukup ditulis via "send message" atau "send smile"


Kalau komentar jahanam, tentang

- "Condro ini tukang gosip, tidak bisa menjaga rahasia"

- "Condro ini posesif dan cemburuan"

- "Condro ini jarang mandi"

pasti akan tetap tampil di profil, karena kuanggap menggambarkan diriku


Juga komentar cantik, pasti akan kupasang seperti

- "Condro pria setia"

- "High quality Jomblo"

- "Condro hemat air, jadi jarang mandi"

- "Condro ini kaya anjing. Traktir dia makan, dijamin dia bakal setia padamu"


Ok, deh, sekian dulu.

Apa yang kutulis takkan diubah kecuali kalau bertentangan dengan sains dan teknologi.

***

Kawan-kawan tercinta, berhubungan Friendster memiliki setting privasi yang tidak terlalu keren, aku sekarang pindah ke Facebook.

Yang Terlupakan Juga

Hore... tulisan pertamaku di tahun 2008...

(tepatnya 5 Januari 2008)

Kembali ke blogs lagi.

Aku masih goblog dalam soal blogs, maka aku selalu merasa bahwa aku kurang serius berpartisipasi dalam gerakan Go Blog yang dicanangkan para blogger.

Nah, aku mencoba menulis lagi lanjutan tulisan "Yang Terlupakan", baca:

http://iscab.blogs.friendster.com/ignatius_sapto_condro_atm/2007/05/yang_terlupakan.html


Si D, yang kukenal pertama kali sewaktu kelas 2 SMA, berhasil kutambah (add) sebagai teman (friend) di friendster. Hore...

Aku terhibur sedikit, karena aku tak lagi menjadi Yang Terlupakan.

(eits... tulisan ini agak kadaluarsa, gua udah di-approve oleh si D di Friendsternya dan Facebooknya)


Hiburan bertambah lagi ketika si Mn yang kukenal saat 1 SMP menyetujui (approve) pertemanan di friendster. Tidak secantik dahulu, sih. Maklum pandanganku tentang kecantikan berubah seiring dengan perkembangan jaman.

(eits... tulisan ini agak kadaluarsa, si Mn meng-approve di Friendsternya dan Facebooknya)


Si A, juga ikut jadi temanku di FS. Kaga tahu dia meng-add asal atau karena ingat aku. Yang jelas aku merasa menjadi bukan Yang Terlupakan.

(eits... tulisan ini agak kadaluarsa, si Mn meng-approve di Friendsternya dan Facebooknya)


Si M, yang kukenal saat SMP. Sampai sekarang belum kutemukan di jagad Friendster. Mungkin dia ada di Multiply, Facebook, Goodreads, atau yang lainnya. Perlu diingat, aku udah lupa password multiply gua. Ikut Facebook juga malas karena mirip StudiVZ. Goodreads juga malas, karena gua lagi jarang baca buku. Aku terlalu malu untuk ikut seperti itu. Kalau ketemu si M, baik secara virtual maupun secara fisik, mudah2an aku bukanlah Yang Terlupakan.

(eits... tulisan ini agak kadaluarsa, aku udah punya akun di Facebook dan password di Multiply udah ingat lagi)


Si Y yang kukenal saat aku 1 SMP dulu sempat kutemukan di jagad friendster, tapi aku lupa nyambungnya lewat teman yang mana. Sekarang aku sudah malas mencari jejaknya, mengingat temanku di akun FS ini sudah 933. Di akun FS yang lain jumlah temanku cuma 200-an, yang mayoritas kaga aku kenal.

(eits... tulisan ini agak kadaluarsa, temanku di akun FS yang benar udah 1094 orang dan di akun FS yang buat lihat cewe cantik doang udah 624)


Nah, sekarang si J yang kukenal saat aku 2 SMA. Yang pernah ditaksir oleh kawanku G (vokalis Yovie and Nuno) ketika si G baru aja putus ama V. Sekarang si G sudah menikah, kaga tahu kabarnya lagi, mudah2an Yovie and Nuno segera bikin album. Kembali tentang J, dia sampai sekarang belum approve di friendster. Padahal aku pengen lihat foto2nya. Pasti makin sexy. Aku tak tahu kenapa dia tidak approve. Apakah aku Yang Terlupakan? Atau Yang Dibenci dan Yang Harus Dilupakan?

(eits... tulisan ini agak kadaluarsa, si G udah bukan vokalis Yovie and Nuno lagi, plus dia udah punya akun di Facebook)



Nah, sekarang di friendster, aku berhasil menemukan si L. Dulu sekolah di SMA yang sama. Apakah juga di SMP yang sama, ya? Aku lupa. Nah, sekarang aku menjadi yang melupakan.

Si L ini masuk Biologi ITB dan aku masuk Teknik Elektro ITB. Si L punya rumah di dekat Soreang. Aku punya rumah di Margahayu Permai. Kalau aku lagi pengen hemat, dan dia lagi pakai mobil pribadi, aku suka nebeng. Nah, karena EL ITB adalah jurusan yang miskin cewe, dan aku lagi jomblo saat itu, ditambah si L ini orangnya cerdas, penuh semangat, wawasan luas, punya impian, senang diskusi, ikut gera'an mahasiswa yang lumayan progresif revolusioner, maka aku jadi kagum dan agak-agak tertarik dengan si L. Cuma aku tak bisa mengungkapkan rasaku karena aku lagi memperjuangkan cinta wanita lain. Jadi kawan-kawan, kalau kamu cewe punya wawasan luas dan cerdas plus kalau bisa feminis, maka cocoklah denganku.

Si L ini pindah ke California (di USA), wah, jauh, sebelum menuntaskan masa TPB di ITB. TPB artinya Tahap Persiapan Bersama, yaitu semester 1 dan 2 di kampus Ganesha 10 itu. Anak-anak KMK ITB menyanyikan lagu "The Wedding" pada saat perpisahannya. Aneh, ya? BTW, KMK ITB itu Kawan Makan Kawan ITB. :-) Kaga, ding, yang betul adalah Keluarga Mahasiswa Katolik ITB, kadang-kadang juga disebut Keluarga Mahasiswa Komunis, mengingat banyak tokoh kiri berasal dari sana. Saat ini mungkin boleh disebut Keluarga Main Kartu.

Kalau dia keluar dari ITB pindah ke California. Aku tetap di Bandung. Aku pindah kuliah. Dulu Elektro ITB sekarang aku pindah Sastra Listrik UGT (Universitas Gadjah Tapa). Kampus ini lokasinya sama dengan ITB, minjam gedung, dosen, dan juga ijazah. Sempat bertemu dia ketika dia lagi liburan. Aku bertemu dia di UGT/ITB. Ternyata dia lupa denganku. Memang sudah nasib, kalau bertemu wanita cantik, aku selalu menjadi Yang Terlupakan.

Lalu sekarang kutemukan dia di jagad Friendster. Kukirimi dia pesan (message). Kuberitahu emailku dengan harapan diundang (invite) tapi tiada balasan. Kayanya aku menjadi Yang Makin Terlupakan.

(eits... tulisan ini agak kadaluarsa,, si L udah meng-approve di Friendsternya dan Facebooknya)


Sekali lagi kawan-kawan, aku memang selalu dilupakan oleh wanita cantik. Jadi bersyukurlah kalau kamu bisa lupa denganku, itu artinya kamu memang cantik.

Kalau baca jangan setengah

Setelah kubaca semuanya, aku baru mengerti

Blogs yang kemarin, hanyalah ungkapan emosional semata

jika kugunakan rasionalitas dan setelah kuuji dengan kemampuan jurnalisme investigatifku, ada makna yang berbeda yang bisa kutemukan

Aku menyesal telah mengeluarkan pesan kepadanya dan pesan di blogs, hanya dari informasi secuil.

Andai saja aku tak lekas cepat emosi.

Kedewasaan memang tidak tumbuh dengan mudah.

Mudah2an keadaan tidak lebih buruk, setelah pesan2ku kemarin.

Aku menyesal membiarkan diriku dibawa emosi sehingga membuatku tidak bekerja dengan baik, hingga 3 kali nyaris menjatuhkan televisi 3000 euro lebih, dan nyaris pingsan dalam bekerja.

Andai saja aku menelusuri semua informasi dengan insting jurnalisku mungkin aku tak perlu menghabiskan waktu untuk bersedih hati.

Kali ini, aku harus berhati2 dalam mengolah informasi.

-- Bremen, 20 September 2007

Tanda Tanya

Tanda Tanya



Seperti kata Dewi 'Dee' Lestari dalam buku Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (kalau tak salah judulnya), setiap orang dilahirkan dengan Tanda Tanya Agung dalam dirinya.

Nah, karena aku dilahirkan dengan tanda tanya, setiap usahaku menemukan suatu titik sebagai jawaban penangkal tanda tanya, aku malah mendapat koma lalu dilanjutkan dengan lebih banyak tanda tanya. Itukah dialektika hidupku.

Tapi tanpa dialektika ini, hidupku bakal garing banget. Walau kadang-kadang merasa iri dengan mereka yang tampak bahagia karena sepertinya mereka telah menemukan titik dalam hidupnya. Aku kok selalu dilingkupi tanda tanya terus?

Nah, sialnya adalah orang yang dekat denganku bakal juga mendapat tanda tanya bukan titik. Mereka yang senang dengan rasa nyaman akan adanya titik, akan stress dan uring-uringan denganku yang menghujani mereka dengan tanda tanya.

Sorry, kawan, aku belum menemukan titik.

Maafkan aku kekasih, jangan cintai aku bila kau mengharapkan titik. Tinggalkan aku, orang yang memiliki tanda tanya agung seluas dan sedalam samudera raya.

Nun jauh di sana, ada yang memiliki tanda tanya yang lebih besar lagi daripadaku, bahkan seluruh ruang angkasa pun tak mampu menyimpan tanda tanda tanya itu.