Jumat, 26 Desember 2008

Kejujuran anjing dan kegelapanku

Aku kagum dengan kejujuran anjing.
Mereka selalu bisa jujur mengungkapkan perasaannya.
Mereka pun tidak peduli apa kata orang tentang diri mereka.
Aku ingin bisa jujur seperti itu, tapi terlalu takut dengan komentar orang-orang.
Ketika anjing butuh perhatian orang, mereka bisa jujur.
Kalau aku, wah, pasti pakai mikir-mikir. Biasanya orang akan bilang kalau aku kekanak-kanakan.

Di satu sisi, aku mungkin punya masalah gangguan komunikasi, sehingga membutuhkan perhatian di atas "orang normal". Apakah ini sebentuk autisme, aku tak tahu. Aku belum pernah dicek ke psikolog maupun psikiater.

Di sisi lain, aku terlampau takut mengungkapkan perasaan ini. Pengalamanku dengan wanita, membuatku terlampau takut berbuat jujur. Aku terlalu takut sakit hati karena dibilang kekanak-kanakan. Manusia kadang-kadang terlampau kejam dalam berkata-kata. Tapi ini dunia manusia, aku harus selalu siap menerima kata-kata kejam orang tentang diriku.

Kalau saja, aku seekor anjing, mungkin hidupku tak perlu tersiksa oleh perasaan ini.
Sisi rasionalitasku masih bisa sampai kini mengendalikan diriku. Tapi aku merasakan ada sisi gelap dalam diriku yang siap meledak. Suatu sisi di mana tidak ada moralitas, hanya ada kebebasan, kemarahan, tidak ada rasa bersalah, tidak ada rasa takut. Inilah yang dinamakan psikopat.

Aku mungkin belum melangkah ke sisi itu. Namun kegelapan itu selalu mengajakku untuk pergi ke sana. Entah sampai kapan ku bisa bertahan.

Aku jadi ingat anjingku dulu yang selalu ramah padaku, namun sebetulnya dia memiliki sifat ganas. Anjingku bisa membunuh hewan lain.

Anjingku ini selalu mengingatkanku akan sisi gelapku yang bisa muncul sewaktu-waktu.

Tidak ada komentar: